Buka jam 08.00 s/d jam 21.00 , Sabtu- Minggu libur
Beranda » LANGSING SEXY » BODY Yanti Sangwanita karir

BODY Yanti Sangwanita karir

Ditambahkan pada: 7 March 2018 / Kategori:
BODY Yanti Sangwanita karir
Kode : -
Berat : 0.5 kg
Stok : Ready Stock
Dilihat : 328 kali
Review : Belum ada review
INFO HARGA
Silahkan menghubungi kontak kami untuk mendapatkan informasi harga produk ini.

Bagikan informasi tentang BODY Yanti Sangwanita karir kepada teman atau kerabat Anda.

Deskripsi BODY Yanti Sangwanita karir

Perkenalkan namaku Yanti. Aku seorang wanita karier berumur 35 tahun, bersuamikan pria yang sebelas tahun lebih tua. Pekerjaanku adalah Marketing Manager di sebuah perusahaan swasta yang menangani para Sales Promotion Girls, sedangkan suamiku adalah seorang Distric Manager Farmasi.

Di usia perkawinan yang sudah menginjak 14 tahun ini, kami dikaruniai dua orang anak yang manis-manis. Dea putri kami sekarang sudah berumur 12 tahun dan adiknya Rio baru 8 tahun. Walaupun sudah beranak 2 namun aku selalu menjaga kebugaran tubuh dengan mengikuti fitnes seminggu dua kali agar badan ini selalu terlihat langsing. Tidak hanya itu, aku selalu rutin minum jamu dan merawat tubuh, sehingga badan jadi sehat dan payudara 36-B masih kencang menantang. Kehidupan perkawinan kami berjalan wajar sebagaimana pasangan suami istri yang lain. Dengan materi yang cukup, kebahagiaan keluarga kami selalu terjaga.
Selain kami sekeluarga, di rumah ini tinggal seorang pembantu rumah tangga Mbok Nah namanya dan seorang anak laki-lakinya yang seumur dengan anak pertamaku, Harso adalah nama anak Mbok Nah. Mbok Nah adalah seorang janda muda dari Solo umurnya sekitar 30 tahunan, dia diceraikan suaminya sejak mengandung si Harso karena sang suami tidak mau mengakui bahwa anak yang dikandung Mbok Nah adalah anaknya. Itu beralasan karena Mbok Nah termasuk gadis desa yang ‘nakal’ pada waktu itu.

Karena terlalu mementingkan pekerjaan, setelah suami aku diangkat menjadi Distric Manager kehidupan sex kami mulai menurun. Hal ini dikarenakan seminggu dua kali kadang-kadang seminggu penuh suami aku harus ke luar kota untuk mengurus pekerjaannya. Oleh karena itulah frekuensi hubungan sex kami hanya dapat kami lakukan jika suami ada di rumah dan tidak dalam keadaan lelah. Hal ini sangat mengganggu aku, karena libido aku terbilang cukup besar. Hubungan sex yang hanya dua kali dalam satu bulan membuat batin aku tersiksa. Hanya dengan masturbasi tuntutan batinku dapat tercurahkan.
Sering kali libodoku tiba-tiba muncul, entah di rumah, kantor, malah kadang-kadang di atas mobil. Jika sudah begitu hanya masturbasilah jalan keluar yang terbaik buatku untuk melepaskan hasrat.

Aku adalah tipe wanita yang setia, demikian juga suamiku. Jadi untuk melakukan selingkuh atau berhubungan sex dengan laki-laki lain menjadi pemikiranku yang ke-100. Banyak sih sebenarnya kesempatan yang datang ketika libidoku naik hingga hasrat untuk berhubungan sex menjadi suatu tuntutan batin, tetapi untuk melakukannya dengan laki-laki selain suamiku membuat aku harus berpikir 1.000 kali. Kalau hanya untuk membayar gigolo-gigolo muda rasanya kemampuan financialku lebih dari cukup, hanya saja aku selalu berpikir bahwa penis mereka telah keluar masuk dalam vagina banyak wanita hingga rasa jijik selalu mengusik. Sedangkan rekan-rekan kerja banyak juga yang sering menggoda, baik dengan gurauan maupun serius, tetapi itu semua tidak aku tanggapi.

Hingga suatu saat, aku mengalami suatu peristiwa yang luar biasa dan baru sekali dalam hidup ini. Persitiwa itu adalah melihat secara langsung sepasang pria dan wanita melakukan hubungan sexual. Ini terjadi di kantorku sendiri.
Siang itu ketika aku ingin buang air di kamar mandi kantor, tidak kukira jika kamar mandi sebelah sedang berlangsung ‘permainan panas’ antara dua insan manusia.
Dari balik kamar mandi yang sedang aku pakai hanya terdengar desahan nafas dan sesekali lenguhan. Aku tahu persis bahwa desahan dan lenguhan itu adalah akibat dari hubungan sex yang sedang dilakukan di kamar mandi sebelah. Dengan penuh penasaran aku segera menyelesaikan acara buang hajat dan mencoba mengintip dari lubang kunci.
Bagaikan disambar petir di siang bolong, aku melihat Wati sedang berhubungan badan dengan seorang cleaning service kami. Wati berdiri dengan posisi menungging dan tangan bersandar pada bak mandi, sedangkan Tono si cleaning service menusuk-tusukan penisnya dari arah belakang dan tangannya berpegang pada pantat si Wati. Mereka tidak bertelanjang bulat, Wati hanya menyingkapkan rok mininya dan menurunkan celana dalam sebatas lutut, sedang celana Tono terlihat melorot sampai paha. Tampaknya kedua insan ini benar-benar menikmati hubungan sex mereka. Dengan mata terpejam terlihat Wati betul-betul menikmatinya, demikian pula Tono.

Jantung berdegub dengan kencang, keringat dingin membasahi tubuh, nafaspun jadi tak beraturan, tak terasa aku jadi terangsang. Celana dalamku mulai basah oleh cairan vagina, payudara dan putingnya mulai mengeras. Karena takut ketahuan, aku segera mengakhiri acara mengintip ini. Bergegas kembali masuk ke ruang kerja. Pikiran ini masih saja membayangkan peristiwa di kamar mandi itu. Hal ini membuat aku tidak dapat berkonsentrasi penuh terhadap pekerjaan.

Tidak berapa lama tampak Wati berjalan melewati ruang kerjaku. Dengan wajah berbinar dan senyum manis tampak menghiasi wajahnya. Jelas sekali kebahagiaan tampak dari raut wajahnya. Beberapa menit kemudian, gantian Tono melintas. Berbeda dengan Wati, kali ini Tono tampak bergegas dengan wajah tertunduk.

Setiba di rumah sekitar pukul 19.30, aku menyadari bahwa suamiku sedang bertugas ke luar kota, anak-anak sudah berada di kamar masing-masing.
Setelah mandi badan ini segar kembali. Dengan bermalas-malasan aku membaringkan tubuh di atas tempat tidur. Ketika mata mulai terpejam, bayangan peristiwa di kantor kembali mengusik. Hebatnya persetubuhan antara Wati dan Tono kembali membuat aku terangsang. Perlahan jari-jemari mulai mengelus lebut permukaan kemaluan yang masih tertutup celana dalam. Rasa nikmat mulai merambat ke seluruh tubuh. Sekarang giliran tangan kiriku meremas payudara dan sesekali memilin putingnya. Terasa cairan vagina mulai membasahi celana dalam. Jari-jemari semakin aktif menggosok dan dengan perlahan aku mulai melepaskan celana dalam dan membuka paha lebar-lebar
Kini dengan bebas jari-jariku menelusuri clitoris. Gosokan pada clitoris membuat sensasi yang luar biasa. Seperti terkena aliran listrik ribuan volt, badan ini serasa melayang. Desahan nafas tidak dapat aku kontrol lagi. Dengan mata terpejam aku nikmati sensasi luar biasa ini. Tak hanya itu, sekarang jari tengah mulai ke masukkan ke dalam liang vagina. Dengan sedikit kulengkungkan ke atas, jari tengah kuarahkan pada g-spot. Perlu sedikit aku jelaskan bahwa g-spot (titik rangsang) pada wanita terletak antara clitoris dan liang vagina bagian atas. Kali ini sensasi rangsangannya melebihi jika kita menggosok clitoris. Dasyat sekali……….

Dengan mengeksploitasi g-spot, seorang wanita tidak akan membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai orgasmenya. Hanya butuh beberapa menit saja …… hal inilah yang sering tidak dilakukan oleh seorang pria terhadap pasangannya atau seorang wanita yang tidak mau / tidak tahu tentang g-spot-nya.
Demikian pula aku yang dengan semangatnya menggoso-gosokkan jari tengah pada g-spot. Aku mulai merasakan bahwa orgasme sudah berada di ambang pintu…
“Aaaghhh…..” badanku mengejang, melayang jauh ke atas dan tiba-tiba jatuh dari ketinggian…. nikmat sekali.
Badan aku lemas seperti tidak bertulang, nafas ngos-ngosan dan jantung berdebar kencang. Dengan mata terpejam aku nikmati sisa-sisa orgasme.
Setelah co***ng down, mata terasa mengantuk dan akupun tertidur dengan pulasnya.

Pagi ini aku terbangun dengan perasaan bahagia, setelah semalam melampiaskan nafsu yang membelenggu.
Tampak Mbok Nah tengah sibuk di dapur dan setelah itu merawat anak bungsuku. Dea dan Harso sudah berangkat sekolah, kini tinggal aku, Rio dan Mbok Nah.

Setelah mandi dan berdandan rapi, aku siap pergi ke kantor. Dengan mengendarai mobil, aku tempuh perjalanan 30 menit dari rumah ke kantor. Kembali aku harus memasuki dunia kerja yang penuh rutinitas, kesibukkan membuat aku sering lupa waktu.

Sore ini ketika kantor selesai, aku melihat Wati sedang duduk sendirian di ruang kerjanya. Perasaan penasaran kembali menghayuti pikiran. Segera aku masuk ke ruang kerjanya.
“Hai…..” sapaku, “ Tumben tidak segera pulang…?”
“Hai Yan….” balasnya, “iya nih…lagi males aja…”
“Kok sama Wat… aku juga males”
“Duduk di sini aja Yan…. kita ngobrol-ngobrol sebentar” kata Wati sambil menarik kursi mempersilahkan aku untuk duduk.
Setelah aku menutup pintu, aku segera duduk berhadapan dengan Wati. Kami mulai ngobrol tentang banyak hal, terkadang obrolan kami dibumbui gosip-gosip.
Tak terasa obrolan kami mulai menyinggung tentang sex. Kesempatan ini tidak aku sia-siakan, mumpung temanya lagi hot.
“Wat…. sebelumya maafin aku ya….”
“Hei… ngapain sih… kelihatanya serius amat…”
“Nggak…. kemarin tanpa sengaja aku mendengar sepasang manusia sedang bercinta di kamar mandi…. aku penasaran…… dan ketika ku intip ternyata kamu dan si Tono lagi begituan….”
Wajah Wati berubah memerah dan tertunduk….
“Sekali lagi sorry Wat…..”
“Nggak apa-apa Yan…. tapi kamu jangan sebarin ke orang lain ya…?” pintanya memelas.
“Pasti…. aku janji…. kamu adalah sahabatku bahkan sudah seperti saudara sendiri… mana mungkin aku sebarkan peristiwa itu pada orang lain….” jawabanku menenangkan hati Wati, “Kalian sering ya ngesex di kamar mandi…?”
“Itulah Yan…. aku ini punya libido yang besar… nafsu ini dapat bangkit tiba-tiba….. untungnya di kantor ini ada si Tono…. jadi kalau tiba-tiba bernafsu ketika di kantor, aku ajakin Tono ke kamar mandi….. aku hanya sekedar melepaskan hasrat…. aku nggak bisa nahan kalau hasrat itu datang…..” jelas Wati panjang lebar.
“Itu berarti kamu sama dengan aku Wat…. aku juga berlibido besar, sering tiba-tiba pingin banget ngesex, tetapi untuk melakukan hubungan sex dengan lelaki lain aku nggak berani….” jelas ku.
“Terus…. kalau lagi ‘pingin’ ……”
“Aku melakukan masturbasi….. yang penting hasrat ini terlampiaskan….. bukannya munafik Wat… sebenarnya ada rasa ingin mencoba tapi nggak berani….”
“Bukannya berani atau nggak berani Yan… tetapi kesempatan dan siapa yang mau diajak…. itulah point utamanya…..” dengan bersemangat Wati menjelaskan, “Aku dulu juga seperti itu Yan…. tapi setelah ada kesempatan dan Tono kebetulan menjadi pilihan…. terjadilah peristiwa di kamar mandi seperti apa yang kau lihat…”
“Kok bisa sih….”
Wati mulai bercerita awal mula ngesex dengan Tono. Dan hanya dengan Tono si cleaning service, tidak ada yang lain.
Peristiwa itu bermula ketika tiba-tiba hasrat sexual Wati muncul. Seperti biasanya dia langsung menuju ke kamar mandi kantor untuk ‘swalayan’….. karena desakan nafsu yang sudah di ubun-ubun, Wati kelupaan mengunci pintu kamar mandi. Dan Tono si cleaning service baru bekerja beberapa hari itu tiba-tiba membuka pintu kamar mandi. Mereka berdua sama-sama terkejut, sama-sama malu…..
Diusia menjelang 20 tahun, Tono adalah pemuda yang gampang banget terangsang…. hanya dengan melihat foto wanita mengenakan bikini saja sudah dapat membangkitkan nafsunya. Demikian halnya dengan ketidaksengajaannya membuka pintu kamar mandi dan mendapati Wati sedang melakukan masturbasi. Walaupun hanya sekilas Tono melihat kemaluan Wati, penisnya langsung ereksi hebat……

Peristiwa itu berlalu begitu saja, hingga suatu saat secara tidak sengaja mereka berdua kembali bertemu di lorong kamar mandi kantor.
“Maaf bu…. kemarin Tono membuka pintu tanpa mengetuk…”
“Ngggaakkkk… mmasalah Ton…. aku yang salah….” kata Wati terbata.
Mereka berdua menunduk malu, dan pembicaraan terhenti…
“Maaf, Ibu Wati mau ke kamar mandi… silahkan bu….” Tono memiringkan badan memberi jalan kepada Wati. Watipun berjalan melewati Tono dan masuk ke kamar mandi, bau harum parfum Wati langsung tercium oleh Tono…. tak dapat dipungkiri Tono kembali teringat peristiwa kemarin, dan itu mengakibatkan nafsunya bangkit. Penis Tono ereksi….
Tono hanya berdiri dan diam, matanya terpejam membayangkan kemaluan Wati yang sekilas dilihatnya kemarin, penisnya semakin keras. Tanpa disadarinya, Wati sudah keluar dari kamar mandi. Pandangan Wati langsung tertuju pada tonjolan celana Tono. Demikian besarkah penis si Tono, pikir Wati ketika ia lebih memperhatikan tonjolan penis di balik celana Tono. Mau tak mau libido Wati-pun bangkit.
Mereka berdua terhanyut pada imajinasi masing-masing. Dan ketika tersadar, dengan reflek tangan Tono menutupi tonjolan penisnya, demikian juga Wati segera memalingkan wajahnya.
“Maaf bu…..” ujar Tono
“Aku yang minta maaf Ton…” ujar Wati pula.
“Sekali lagi maaf bu… Tono tidak bisa menahan nafsu…. Tono bayangin ibu Wati….” kata Tono lugu dan polos.
“Pantes… penis-mu …..” Wati memberanikan diri.
“Iya…. sering seperti ini bu….” kata Tono lagi
“Kalau sudah begitu terus ngapain…” pancing Wati
“Paling-paling di’puasin’ sendiri… seperti yang ibu Wati lakukan kemarin…..”
“Berarti kamu dan aku sama Ton…. hanya dengan melihat tonjolan penis di balik celanamu akupun jadi terangsang….” kata Wati sambil meraba sela pahanya yang masih tertutup rok mini, “Aku rasakan celana dalam-ku mulai basah Ton….”
“Ibu mau masturbasi…. silahkan lho bu…. biar Tono onani di kamar mandi sebelah….”
Dengan penuh keberanian, Wati mengajak Tono untuk bergabung bersamanya dalam satu kamar mandi. Mula-mula Tono menolak, dia takut karena Wati adalah staff kantor yang dihormatinya dan Tono-pun takut jika ketahuan orang lain…..
Karena nafsu sudah menguasai diri, dan merasa ia berstrata lebih tinggi di kantor ini dibanding Tono, Wati segera mendekati Tono. Dengan segera Wati merapatkan tubuhnya pada tubuh Tono. Payudaranya terhimpit dada bidang si cleaning service, sejurus kemudian tangan Wati meremas tonjolan penis dibalik celana Tono. Diraihnya tangan Tono dan dituntunnya ke arah payudara. Dengan wajah pucat dan rasa ketakutan Tono hanya bisa terdiam, tetapi rangsangan pada penis-nya mengakibatkan sensasi nikmat yang luar biasa. Akhirnya iapun terhayut irama permainan yang disodorkan Wati. Tangan Tono sekarang sudah mulai berani meremas payudara Wati. Tak hanya itu, tangan itu mulai berani menyusup dibalik pakaian kerja Wati dan menemukan bongkahan lembut yang masih tertutup BH. Dengan perlahan tapi pasti, kini tangan Tono dapat melewati BH dan menemukan payudara dengan puting yang mulai mengeras. Sekarang Tono tidak perlu berkhayal lagi, seperti ketika ia melihat foto-foto artis Indonesia yang berbikini. Remasan dan pilinan tangan Tono pada payudara, membuat Wati semakin terangsang. Dipejamkan matanya, Wati menikmati rangsangan pada payudaranya. Demikian juga Tono, rangsangan pada penis-nya membuat ia kelimpungan menahan gejolak.

Keadaan lorong kamar mandi yang sepi, membuat aktivitas mereka terus meningkat. Wati, ia yang pertama sadar bahwa mereka masing berada di lorong. Segera ditariknya tangan Tono dan diajaknya si cleaning service lugu ini masuk ke dalam kamar mandi. Dikuncinya pintu, disandarkannya Tono ke dinding kamar mandi dan segera tangan Wati melepas gesper dan membuka restluiting celana Tono. Dengan sedikit tenaga celana itu sudah turun sebatas paha. Sekarang terlihat oleh Wati, penis yang ereksi terbungkus celana dalam. Ujung penis tampak keluar dari batas celana dalam. Tanpa membuang waktu diturunkannya celana dalam itu, kini dengan jelas tampaklah penis Tono yang ereksi penuh. Inilah penis laki-laki lain yang pertama kali dilihat dan dipegang olehnya selain milik suaminya. Dengan posisi berdiri di samping Tono, Wati mulai melakukan aktivitasnya. Dikocoknya penis Tono dengan lembut, dengan gerakan naik turun yang ritmis. Lewat genggaman tangannya Wati dapat membandingkan besarnya kemaluan Tono dibandingkan dengan milik suaminya. Wati merasakan perbedaan yang mencolok, baik dari segi ukuran maupun kekerasannya. Penis Tono benar-benar luar biasa, maklum anak muda yang masih perjaka, yang belum tersentuh oleh wanita. Beruntunglah aku, pikir Wati.

Irama kocokan tangan Wati semakin meningkat tatkala ia mulai merasakan deyutan-denyutan pada penis Tono. Karena Wati sudah berpengalaman dengan suaminya, ia dapat memastikan bahwa sebentar lagi orgasme Tono akan segera tiba. Benar saja… tak berapa lama ejakulasi hebat terjadilah. Sperma Tono menNahprot keluar dari ujung penisnya, beberapa kali semprotan memancar jauh hingga membasahi dinding. Terlihat sperma yang berwana putih dan kental, menandakan kualitas sperma yang bagus dan tentunya tidak sering ejakulasi, baik dengan berhubungan sex maupun ejakulasi dengan onani ataupun petting.
Kini lemaslah tubuh Tono si cleaning service, dengan senyuman sebagai tanda kepuasannya.
“Terima kasih bu Wati…. ejakulasi yang hebat….” kata Tono dengan lugunya.
“Sekarang gantian ya…… aku juga pingin, Ton…” bisik Wati
Tanpa menunggu waktu, Wati segera mengangkat rok mininya dan melepaskan celana dalam G-string-nya. Tampaklah gundukan kemaluan ditumbuhi rambut yang terawat rapi. Memang Wati sering mencukur rambut kemaluannya dengan rapi untuk memperindah bentuk kemaluannya. Dengan segera pula ditariknya tangan Tono. Diarahkannya pada kemaluan yang sudah basah itu. Karena keluguannya, tangan Tono hanya terdiam di permukaan, dengan sabar Wati mulai menuntun tangan Tono untuk menggosok-gosokkan jarinya pada clitoris. Tono-pun melakukannya, kini Wati mulai merasakan sensasi dari jari-jari Tono. Tuntunan tangan Wati terhadap tangan Tono masih terus berlangsung, bahkan irama semakin berkembang dengan cepat. Tak hanya itu sesaat Wati mengarahkan jari-jari Tono untuk masuk ke dalam lubang vaginanya. Tak hanya satu, bahkan dua jari langsung yang dimasukkan. Hal ini dilakukan Wati agar sensasinya menjadi lebih dasyat.
Wati menikmati kocokan tangan Tono dan dengan goyangan pinggulnya ia mulai mengikuti irama kocokan. Walaupun masih dituntun, namun jari-jari Tono dirasakan oleh Wati menari-nari di dalam vaginanya. Ini berarti Tono adalah orang yang cepat belajar dan kreatif. Sesekali jari-jari itu menyentuh G-spot, dan jika itu berlangsung terlihat Wati semakin menggeliatkan tubuhnya.
“Tttooon… llebihh ceepeet… laaagiii….” pinta Wati, karena ia sudah merasakan orgasmenya semakin dekat.
Seperti atlet yang mendapat support, Tono semakin memepercepat kocokannya.
“Aaahhggg….. hheeggghhh…ahhgg !”
Tangan Wati semakin kencang memegang tangan Tono, tubuhnya meliuk, ia mengejang beberapa kali….. Dia mendapatkan orgasmenya. Badan Wati melemas dan ambruk di dada bidang Tono. Kenikmatan yang tiada tara baru saja ia dapatkan dengan lelaki yang bukan suaminya. Walaupun hanya dengan petting ia mendapatkan orgasme yang lebih hebat daripada dengan masturbasi sendiri atau bahkan berhubungan sex dengan suaminya yang nota bene hanya sebagai pelengkap hubungan suami istri.

Dengan peristiwa di atas, sekarang Wati lebih berani meminta kepada Tono untuk memuaskan nafsunya. Bahkan tak lagi petting, mereka sudah melakukan intercouse dan saling memuaskan satu sama lain. Dan tidak terasa hubungan itu sudah terjalin hingga kini, di usia kerja Tono yang ke empat tahun.

“Itulah Yan…. seperti apa yang kau lihat kemarin…..”
“Beruntunglah kamu Wat….” kataku sambil penepuk pundaknya.
Tak terasa hari sudah mulai malam, sekarang sudah menunjukkan pukul 19.21, saatnya untuk pulang.
Kamipun saling berpamitan pulang, dan sekali lagi Wati mengingatkanku untuk tidak menceritakan peristiwa itu kepada siapapun.

********

Sabtu malam Minggu, suasana rumah sedang sepi. Suamiku sedang up town ke Yogyakarta, sedangkan anak-anak dibawa neneknya ke Solo. Praktis hanya tinggal aku, Mbok Nah dan Harso putranya. Malam ini aku lewati hanya dengan menonton siaran televisi, semakin lama rasa jenuh menyerang sedangkan kantuk tak kunjung datang. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.26 WIB, ketika tiba-tiba aku melihat sekelebat bayangan. Dengan langkah perlahan dan penuh rasa curiga aku mengikuti sampai hilangnya bayangan tersebut.
Setelah benar-benar aku perhatikan, ternyata Harso yang sedang menuju ke kamar mandi. Mungkin dia kebelet pipis, tetapi telinga ini tidak mendengar gemercik air atau suara apapun di dalam kamar mandi. Sudah menjadi sifat aku, rasa penasaran itu selalu muncul dalam benakku. Dengan rasa penasaran aku menempelkan telinga pada pintu kamar mandi, sayup-sayup terdengar desahan halus dari dalam, perasaan penasaran semakin menjadi. Dengan perlahan aku memutar handel pintu dan membukanya. Dari celah tersebut aku dapat melihat dengan jelas apa yang sedang dilakukan Harso di dalam kamar mandi. Perasaan jadi ridak menentu, karena dengan jelas aku melihat Harso sedang asyik ber-onani. Dia nikmati betul acara ‘swalayan’ ini, terbukti dengan mata terpejam dia sama sekali tidak mendengar handel pintu dibuka, dan juga kehadiranku menyaksikan acara live show ini.

Dengan tangan dipenuhi busa sabun, Harso semakin cepat melakukan kocokan pada penis-nya. Sesekali pinggulnya bergoyang mengikuti irama kocokkannya. Harso benar-benar menikmati, dia tidak sadar bahwa tingkah lakunya sedang diamati oleh seorang wanita yang nota bene bernafsu besar. Melihat pemandangan seperti itu mau tidak mau aku jadi terangsang. Bayangkan saja, bocah lelaki 14 tahun dengan penis yang ereksi penuh. Aku melihat penis Harso yang tidak terlalu besar dan rambut kemaluannya masih terlihat jarang. Tetapi itu adalah penis seorang lelaki yang bukan suamiku. Bayanganku kembali kepada cerita Wati kemarin sore. Alangkah nikmatnya apabila aku dapat berhubungan sex dengan bocah SMP ini, tetapi beranikah aku ?. Pertanyaan itu muncul dalam benak yang sudah dilanda nafsu birahi.
Setelah aku berpikir jika ini bukan saat yang tepat untuk itu, dengan perlahan aku kembali menutup pintu kamar mandi dan langsung menuju ke kamar. Malam ini aku tidur dengan perasaan gelisah karena dengan jelas sekali aku melihat penis Harso yang tegang. Akhirnya aku melakukan ‘self service’ hingga mencapai orgasme,dan tidur dengan perasaan puas.

Minggu pagi ini seperti biasa, sehabis fitness aku langsung pulang ke rumah. Suasana sepi tampak sekali menyelimuti rumah. Setelah mobil aku masukkan ke garasi, langsung ku langkahkan kaki menuju dapur untuk mengambil minuman dingin.
“Mbok…. Mbok Nah……”
Sepi….. tidak ada jawaban dari yang ku panggil. Aku ambil sebotol air minum dingin dari kulkas dan langsung balik badan meninggalkan dapur. Ketika melewati kamar Mbok Nah, aku melihat pintu kamar sudah dalam keadaan terbuka. Aku melongok ke dalam, hanya ada Harso yang masih tertidur pulas. Berarti Mbok Nah sedang keluar rumah, entah ke pasar atau kemana aku tidak tahu. Aku tinggalkan kamar Mbok Nah dengan Harso-nya.

Setelah mandi badan ini segar rasanya, capek sesudah mengikuti fitness hilang sudah. Tidak terasa secangkir susu hangat kini hanya tonggal gelasnya, dengan langkah gontai aku pergi ke dapur untuk menaruh gelas kotor pada tempat cuci. Ketika melewati kamar Mbok Nah mata ini lansung melihat Harso yang mulai menggeliat terbangun dari tidurnya. Pikiran kotor aku tiba-tiba muncul. Dengan segera aku langkahkan kaki masuk ke kamar mandi. Sengaja pintu kamar mandi aku buka sedikit dan tidak aku kunci. Segera aku lucuti semua pakaian yang kukenakan, dengan segayung air aku basahi badan ini dan segera aku balurkan sabun ke seluruh tubuh. Aku berharap Harso akan masuk ke kamar mandi ini dan melihat tubuh telanjangku. Dengan berdiam diri di balik pintu, , gemuruh detak jantung dan rasa takut menyelimuti. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti.

Ternyata jebakan ini membuahkan hasil. Tak berapa lama pintu kamar mandi terbuka dan masuklah Harso. Dengan mata yang masih diselimuti rasa kantuk, dia tidak memperhatikan jika di dalam kamar mandi ini ada seorang wanita dewasa yang telanjang bulat. Dengan posisi membelakangiku Harso melepas celana sekaligus celana dalamnya, setelah itu t-shirt-pun terlepas dari badan kecilnya. Kini Harso sudah dalam keadaan telanjang bulat sepertiku. Dan ketika ia membalikkan badan, secara reflek dia tutup penis-nya dengan kedua telapak tangannya.
“Mmaa’aaf bbuuu… ssaayaa… ttiidakk ttahuu… kkkaalllau iibuu addaa ddiii ddaalammm…” katanya ketakutan.
Akupun berpura-pura menutupi payudara dengan tangan kiri, sedangkan tangan kananku menutupi kemaluan.
“Aaa… seharusnya ibu yang minta maaf Har…. ibu lupa tidak mengunci pintunya….”
“Kalau begitu, Harso keluar saja bu….” katanya sambil menunduk
Tetapi sesekali aku melihat lirikan matanya tertuju langsung ke arah payudaraku. Aku ulur waktu….
“Jangan Har… kebetulan ibu perlu bantuanmu untuk menggosok punggung….” kataku sambil menyodorkan puff yang sudah penuh dengan busa sabun.
“Harso takut bu…”
“Ayolah… jangan takut…..” kataku menenangkannya.
Aku raih tangan yang menutupi penis kecilnya. Ku serahkan puff kepada Harso dan aku berkongkok memunggunginya.
Harso yang masih diselimuti rasa malu dan takut mulai menggosokkan puff pada punggungku. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama, karena kurasakan gosokkannya sudah mulai mantap dan tenang.
Dengan sabar aku memcoba untuk mengulur waktu agar Harso dapat semakin lama menikmati pemandangan yang ada di hadapannya. Kini gosokkan puff tidak hanya dilakukan bocah ini pada area punggung, aku merasakan ia sudah mulai berani menyentuhkannya pada bagian pinggang dan belakang ketiakku. Dengan sengaja aku membuka lenganku, ini membuat Harso dengan leluasa menyabuni permukaan samping badanku. Aku menjadi terangsang ketika puff melewati permukaan kulit payudara bagian belakang, desiran halus terasa mulai menyelimuti badanku.
Semakin lama tidak hanya samping badan saja, Harso mulai berani menggosokkan puff pada payudaraku. Tidak hanya itu, tangan kirinyapun mulai ikut aktif mengelus payudara kiriku. Aku nikmati elusan lembut itu, karena tidak tahan dengan perlakuan Harso itu aku memegang telapak tangannya dan langsung mengarahkan pada kedua payudara yang sudah mulai mengeras. Aku tuntun agar Harso tidak hanya mengelus tetapi meremas dengan putaran lembut pada putingnya.
Aku rasakan penis Harso yang ereksi menyentuh punggungku, anak ini sudah mulai terangsang. Kini tidak hanya sentuhan, dengan genggaman tangannya, Harso sengaja menggosok-gosokkan penisnya di punggungku. Aku yang sudah terangsang dari tadi mulai menggosokkan tangan pada kemaluanku. Aku rasakan kemaluanku semakin basah oleh cairan vagina, jari tengah aku arahkan pada vagina dan kusentuhkan pada G-spot-nya. Sekujur badan terasa merinding akibat sentuhan itu.
Kini aku balikkan badan dan tepat berhadapan dengan penis Harso yang sudah ereksi. Aku genggam penis itu, tetapi secara reflek Harso menghindarinya.
“Jangan bu… Harso takut….” katanya sambil menutupi penisnya.
“Nggak usah takut…. rasanya akan lebih enak dibanding kamu onani….. kamu sering onani kan ?”
“Kok ibu tahu….. ?” jawabnya penasaran
“Tahu dong…. sini… jangan takut…”
Aku sudah tidak sabar lagi, nafsu sudah membelengguku. Segera tanganku meraih penis Harso, sekarang dia tampak lebih tenang dan menikmati remasan tanganku. Sabun cair segera aku tuangkan pada permukaan penisnya, gerakan naik turun aku lakukan. Harso memejamkan matanya, menikmati kocokan lembut itu. Aku semakin memberanikan diri, di sela meng-onani-kan Harso ku telusuri permukaan perut bagian bawah dengan kecupan dan ciuman, sesekali tubuh Harso menggeliat ketika ciuman itu tepat pada titik rangsangnya. Sapuan lidah pada area antara pusar dan penis membuat Harso semakin kelimpungan, penis-nya berdenyut semakin kuat.
Pikiranku semakin ngeres…. aku bersihkan penis Harso dari busa sabun, ku dorong tubuhnya untuk bersandar pada dinding kamar mandi dan dengan lahap aku mengulum penis itu.
“Hhhggghh…..”
Harso tersentak menahan nafasnya ketika mulutku semakin kuat menyedot penisnya. Ia menggoyangkan pinggulnya mengikuti irama sedotanku. Oral sex yang aku lakukan ini adalah yang pertama kalinya, karena suamiku tidak pernah mau melakukannya. Baik kepadaku maupun aku kepadanya sehingga kesempatan ini aku manfaatkan sebaik-baiknya.
Penis Harso yang sudah ereksi penuh ini maju mundur dalam mulutku, ketika gerakan mundur aku menyedotnya keras-keras. Tanganku memegangi pinggulnya, membantu mendorong penis dalam mulutku. Demikian juga Harso, tangannya memegangi kepalaku dan menarik dorong mengikuti irama permainan. Cairan kemaluan Harso mulai keluar, rasanya asin. Ini menandakan Harso sudah terangsang hebat. Aku lepaskan tangan kananku pada pantat Harso, segera aku gosok-gosok clitoris untuk mengimbangi rangsangan pada diriku. Kami berdua menikmati permainan ini.
Denyutan penis Harso semakin kuat dan sering, ini menandakan ejakulasi akan segera terjadi. Aku semakin mempercepat gerakan oral sex dan goyangan pinggul Harsopun ikut dipercepat.
“Bbbuuu…… Hhaarrrssoo… mmmaauuu …….”
Belum selesai ia berkata aku sedot penis-nya kuat-kuat dan ….
“Aahhhhggg…… hhheggghhh……..”
Tangan Harso mencengkeram kepalaku dengan kuat, sprema menyemprot di dalam mulutku beberapa kali…. mulutku tak henti-henti menyedoti penisnya hingga sperma itu tuntas keluar. Aku telan semua sperma yang tertumpah dari penis Harso, bahkan sisa-sisa lelehan pada kepala penis-pun aku jilati hingga bersih. Kata orang sperma jejaka baik untuk jamu bagi ibu-ibu yang sudah setengah umur, untuk obat awet muda. Asin dan gurih…
Tubuh Harso tampak lemas dan lunglai….. nafasnya tidak beraturan……
“Enak…. Har….. ?” kataku sambil tersenyum.
“Yyyaa…. bbuuu…. lebbihh eennakk ddari oonnani…..” Harso menjawab sambil memejamkan matanya.
Aku berdiri dan memeluknya, ku kecup keningnya dengan penuh perasaan.
“Ya sudah…. peristiwa ini menjadi rahasia kita berdua…. kapan-kapan ibu berikan yang lebih nikmat dari ini…oke….!” bisikku
“Ya… bu…. Harso akan simpan rahasia ini rapat-rapat” kata Harso sambil mempererat pelukkannya.
“Baiklah… kamu lanjutin mandinya…. ibu keluar dulu, jangan sampai mbokmu memergoki kita…. Oh ya Har… kalau kamu onani, spermanya jangan dibuang percuma ya… ditampung dan berikan pada ibu….. dengan catatan jangan sampai ketahuan bapak….” kataku sambil mengambil handuk dan membelitkan pada tubuhku, serta membawa pakaianku yang ada di kamar mandi ini dan segera keluar. Aku ingin mempraktekkan teori Ani rekan kerjaku yang sering menggunakan sperma untuk masker payudara, katanya payudara akan semakin kencang dan kenyal.
Sebenarnya aku ingin permainan ini berlanjut dengan intercouse, karena aku sendiri sudah amat sangat terangsang dan belum mencapai orgasme. Tetapi hal ini tidak aku lakukan, aku ingin hal ini berjalan sedikit demi sedikit dan aku tidak ingin Harso menjadi shock karenanya.
Segera setelah sampai di kamar, aku menumpahkan segala rangsangan yang sudah kudapat dengan ber’swalayan’. Kali ini guling yang menjadi sasaran amukan. Dengan tubuh telanjang aku naiki guling dan menggoyangkan pantatku sehingga kemaluan ini bergesek pada permukaan guling. Aku hanya berimajinasi bermain sex dengan Harso pada posisi di atasnya. Hingga desakan dalam tubuhku tak dapat ku tahan lagi…. dan ….
“Ooouugghhh……… hhhhegggghhh……” tubuhku mengejang, serasa terbang ke tempat tinggi dan tiba-tiba terjatuh
Aku dapatkan orgasme yang luar biasa hebatnya….. kenikmatan yang tiada tara…. belum pernah dalam masturbasi ataupun ketika berhubungan badan dengan suami aku mendapatkan orgasme sehebat ini. Tubuhku lemas… abruk…. ku gigit guling keras-keras… iiihhhhh aku gemesss….. Terlihat sebagian permukaan guling menjadi basah oleh cairan vaginaku.
Aku tersenyum sendiri memikirkan peristiwa hari ini. Benar-benar hari yang sangat membahagiakan hatiku, hari yang sudah memberikan kenikmatan luar biasa yang belum pernah aku dapatkan sebelumnya. Akupun tertidur dengan perasaan bahagia.

*******

Tak terasa peristiwa itu sudah berlalu dalam seminggu. Hubungan sex dengan suamiku semakin bertambah mesra dan akupun sering mendapatkan orgasme hebat. Mungkin itu terjadi karena dalam berhubungan badan dengan suami, aku selalu membayangkan berhubungan sex dengan Harso anak Mbok Nah.

Malam ini setelah mandi, aku berpapasan dengan Harso di lorong dapur. Dari sakunya ia mengeluarkan botol plastik kecil dan menyerahkannya kepadaku.
“Bu…. ini untuk ibu…” katanya
“Apaah Har…” kuterima botol plastik itu, hangat rasanya.
“Pesanan ibu… katanya sperma Harso nggak boleh dibuang percuma…”katanya sambil berbisik
“Oohh itu… terima kasih Har….” kataku sambil mengusap rambutnya
Kecupan kecil mendarat di bibirnya sebagai hadiah.
Aku berlalu dan masuk kamar. Sendiri di kamar, karena hari ini suamiku sudah berada di Bandung memenuhi tugas kantor dan anak-anak sudah berada di kamarnya. Segera aku buka kimono, kemudian BH. Di depan cermin aku tuangkan cairan sperma Harso dari dalam botol plastik pada telapak tangan kananku. Putih, kental, lengket dan berbau khas mirip bau bunga Akasia, kemudian aku balurkan rata ke seluruh permukaan kedua payudaraku. Setelah semua terbalurkan dan merata, aku rebahkan badan ini di tempat tidur. Sambil menunggu kering, aku isi waktuku dengan membaca majalah. Benar kata Ani, dalam proses mengeringnya sperma pada payudara, aku merasakan payudaraku seperti dicengkeram dengan lembut. Dan ketika sudah kering benar, lapisan itu melapisi payudara dengan ketat dan terasa payudara semakin kencang. Setelah 15 menit, aku bersihkan payudara ini dengan washlap yang dibasahi air hangat. Sesekali washlap hangat ini dibiarkan menempel beberapa saat pada payudara, hasilnya sungguh luar biasa. Payudaraku terasa lebih kencang dan kenyal, putingnya juga terlihat lebih menonjol serta cerah warnanya (silahkan mencobanya sendiri, hasilnya tidak mengecewakan).

Setelah peristiwa yang lalu, anganku untuk berhubungan sex dengan ABG ini semakin menggebu. Tetapi kembali rasa takut masih saja membayangiku. Kadang kala aku berpikir bahwa umur Harso sama dengan usia anak perempuanku, dan ia sudah aku anggap sebagai anak-ku sendiri. Pagar makan tanaman…. itu yang selalu menghantuiku.

Sore ini tampak Harso, Dea dan Rio bermain bersama di halaman belakang. Aku dan Mbok Nah hanya memperhatikan mereka sambil duduk bersandar di kursi beranda. Keceriaan mereka membuah hati kami turut bahagia. Tetapi tiba-tiba pikiran kotor kembali mengusik, tatkala aku melihat Harso sedang menggoda Rio dengan menggoyang-goyangkan pantatnya. Seeerrr….. desiran halus menyelimuti tubuhku. Aku bayangkan goyangan tersebut seperti tengah berhubungan sex bersama ku. Terbayangkan tubuh bugil dengan penis ereksi yang keluar masuk dalam vaginaku. Tak kusadara bahwa pandangan kosongku diperhatikan oleh Mbok Nah.
“Bu… Ibu…..” kata Mbok Nah sambil menggoyangkan lenganku.
Aku tersentak sadar dari lamunan kotor….
“Oohh….. Aaappa Nah ?” kataku tergagap karena kaget
“Ibu ngelamunin apa… kok kelihatannya serius amat…”
“Ahh..nggak kok Nah….. hanya badan ini terasa lesu…. “kataku berbohong.
“Lelah kali bu…. Ibu mau dipijitin….” Inah menawarkan diri
Aku terawangkan pandangan seolah-oleh sedang berpikir.
“Oke Nah…. kelihatannya enak dipijitin….” kataku setuju.
Kami berdiri dan bersiap masuk kamar, “Harso…. Dea… jaga Rio sebentar ya….. hati-hati mainnya… !” seru Mbok Nah memperingatkan.
Dengan langkah gontai aku menuju ke kamar diiringi langkah Mbok Nah dari belakang.
Segera aku rebahkan badan di atas tempat tidurku, Mbok Nah menutup pintu dan menguncinya. Lalu melangkah menghampiriku, kini posisi tiduku berubah menelungkup.
Dari belakang Mbok Nah melepaskan kimono-ku, dilipat rapi dan diletakkannya di atas meja. Kemudian BH-ku dilepaskannya pula, setelah itu tangan terampil Mbok Nah memelorotkan celana dalamku. Kini diriku tertelungkup dengan tubuh telanjang tanpa sehelai benang yang menempel. Tiba-tiba punggung ini merasakan sesuatu cairan yang sejuk, aku sedikit terkejut dan merinding.
“Apaan ini mbok ?” tanyaku penasaran.
“Oh.. maaf bu… hanya body lottion….”
“Pantes….. kok sejuk….” aku kembali memejamkan mata.
Dengan terampil Mbok Nah mulai memijat punggungku. Aku menikmati pijatannya, lembut tapi bertenaga dan sesekali membuat tubuh ini menggeliat tatkala tangan Mbok Nah menyentuh titik rangsangku. Aku paling tidak tahan jika kuduk dan bagian belakang telingaku disentuh lembut. Hal itu cepat sekali membuat aku terangsang. Aku yakin Mbok Nah menjalankan tugasnya dengan baik tanpa ada unsur kesengajaan ingin merangsangku. Pijatannya merata pada punggungku, dari atas hingga bawah semua dipijatnya.
“Mbok… aku mau tanya… Mbok Nah jangan marah ya…?” tanyaku memecah keheningan
“Silahkan bu…. ibu tahu sendiri kan Inah orangnya nggak suka marah…” kata Mbok Nah sambil mencubit pinggangku.
“Sudah sekian tahun kamu menjada… apakah kamu nggak kangen sama laki-laki mbok…?”
“Wehhh… sebagai perempuan normal tentu kangen dong bu…..”
“Pernah tiba-tiba kamu terangsang, mbok ?”
“Tentu saja pernah, bu… Inah kan nafsunya gedhe ” jawabnya polos
“Terus…..”
“Ya….. bagaimana lagi… ditahan-tahan nggak tahan juga….”
“Kamu puasin sendiri, mbok ?”
“Maaf bu, Inah nggak biasa masturbasi….. pernah melakukan sekali hasilnya kurang memuaskan, malah bibir kemaluan Inah perih semua….”
“Terus….” pancingku
“Ya…. Inah kan punya laki-laki untuk diajak ngesex….”
“Siapa laki-laki itu, mbok..?”
“Adaaa ajaaa….” kata Mbok Nah manja
“Katanya pacar kamu dulu banyak ya mbok ?”
“Ahhh… itu kan masa lalu bu….”
“Emang di desa gampang cari pacar ya…?”
“Nggak juga sih… dasar Inah aja yang ‘gatel’…. haa…haaa…haaa” ia tertawa terbahak-bahak.
Tanpa menyadari bahwa Mbok Nah sedang aku pancing untuk menceritakan masa gadisnya di desa, ia mulai berkisah kepadaku.

Diawali ketika Inah berumur 12 tahun, masih duduk di Sekolah Dasar. Walau masih SD tapi tubuh Inah sudah seperti gadis dewasa, maklum tubuh wanita desa lebih cepat berkembang dari pada wanita kota. Mungkin karena makanan yang mereka konsumsi masih segar dan alamiah. Dengan tubuh bongsor, di usianya Inah sudah memakai BH ukuran 34-B, ukuran yang cukup besar untuk anak SD. Dapat dibayangkan betapa besar payudara anak itu. Tidak hanya itu, pikiran Inah juga sudah seperti wanita dewasa.

Seperti bulan-bulan yang lalu, di lapangan Desa sering ada pertunjukan layar tancep. Sedangkan jarak lapangan dengan rumah Inah kurang lebih 2 – 3 Km. Itupun harus melewati persawahan dan keluar masuk kebun orang, jika harus lewat jalan raya jaraknya akan lepih jauh lagi. Dapat dibayangkan, hanya dengan memakai senter kecil Inah dan teman-temannya menerobos kegelapan malam pergi ke lapangan desa untuk nonton film. Film-film yang diputar adalah film Indonesia yang tergolong ‘hot’ di era 80-an. Inilah yang membuat kedewasaan Inah datang lebih cepat. Adegan yang terpampang selalu merasuk dalam pikirannya, hingga dalam tidur Inah sering bermimpi melakukan adegan seperti dalam film yang ditontonnya.

Tidak hanya itu, sering kali Inah menyaksikan sendiri sapi di kandangnya sedang kawin. Atau ketika mandi di kali seberang desa, Inah selalu mencuri-curi pandang ke arah kemaluan laki-laki dewasa yang sedang mandi. Kalau sudah begitu jantungnya akan berdegub kencang dan payudara serta putingnya mengeras, kemaluannya berdenyut-denyut. Inah tidak tahu reaksi apa yang sedang ia alami, hal ini selalu muncul jika ia melihat kemaluan laki-laki atau ternaknya sedang kawin.

Rasa penasaran anak remaja ini mencari pemecahannya. Ia malu bertanya kepada yang lebih tua, karena ia sadar kalau Inah masih anak-anak. Ia mencari tahu dengan pengalamannya, sebagaimana suatu hari dengan rasa penasaran ia sengaja meraba-raba kemaluannya sendiri. Dirasakannya kenikmatan asing hingga ia semakin meningkatkan dari rabaan menjadi gosokkan pada kemaluannya. Dan akhirnya ia dapatkan sesuatu yang membuatnya serasa melambung dan rasa nikmat yang dasyat. Kegiatan itu menjadi rutinitas dikala Inah akan tidur malam, jika itu belum dilakukannya ia tidak dapat tidur dengan nyenyak.

Sore itu, Bapak dan Emaknya pergi kondangan ke desa tetangga. Tinggal Inah sendirian di rumah. Seperti biasa suasana sore terlihat sepi di desanya. Dengan langkah kecilnya, Inah menuju ke kamar mandi di halaman belakang rumahnya. Ketika melewati kandang sapi, tiba-tiba pikiran kotor merasuki otaknya. Ditengoknya kiri-kanan, sepi….. Segera ia masuk ke dalam kandang dan menghampiri sapi jantan milik Bapaknya. Perlahan diusapnya tubuh sang hewan piaraan itu, kini dengan rasa penasarannya tangan Inah mulai merambat dari paha menuju ke penis si sapi. Diraba-rabanya penis itu dengan penuh perasaan, pikiran kotornya semakin membuat Inah terangsang. Kini, tangan mungil itu mulai mengocok penis sapi yang semula kecil menjadi ereksi. Tidak ada reaksi yang berarti dari hewan kesayangan Bapaknya itu. Aktivitas tangan Inah mulai ditingkatkan. Terlihat batang penis itu mulai tampak menjulur keluar. Berwarna kemerah-merahan, licin dan itu membuat Inah semakin terangsang. Dirasakannya payudara mulai mengeras dan celana dalamnyapun mulai basah. Inah semakin tidak dapat menahan nafsunya, tangan kirinya segera masuk menerobos celana dalam tipisnya. Basah oleh cairan vagina, jari tengah Inah mulai menggosok-gosok clitoris. Irama kocokan pada penis sapi seiring dengan gosokan pada clitorisnya. Beberapa menit kemudian Inah merasakan denyutan-denyutan yang semakin kuat dari penis sapinya, demikian juga pada kemaluannya. Dan…… Aagghhh….. Inah mendapatkan orgasmenya, seiring dengan itu tangan Inah semakin cepat mengocok batang penis binatang ternaknya. Akhirnya dengan lenguhan panjang, keluarlah sperma sapi menyemprot kuat beberapa kali. Kocokan tangan Inah mulai melemah.
Setelah itu Inah bangkit dan langsung menuju ke kamar mandi dengan perasaan puas. Hari ini ia mendapat pengalaman baru, dan rasa keingintahuan seorang remaja selalu saja akan meningkat. Itu baru sapi, pikirnya. Bagaimana ya rasanya memegang penis laki-laki ? pikiran itu selalu saja menghantuinya.

Malam semakin larut, tidak terasa sekarang sudah pukul 19.24.
Inah mendengar suara ketukan. Dengan segera ia membuka pintu rumahnya. Didapatinya bulik dan paklik Ali ada dihadapannya.
“Nah, Bapak dan Emakmu tidak bisa pulang malam ini, karena Pak Raji yang punya gawe minta agar orang tuamu membantunya di sana dan bulik disuruh nemeni kamu….” kata bulik Ali pada Inah
“Oh…. kalau begitu kebetulan lik, sudah lama Inah tidak ketemu bulik dan paklik” kata Inah senang
“Kalau begitu kamu tidur saja dulu Nah…. besok sekolah kan..?” kata paklik Ali.
“Iya lik…. kan sudah tidak ada yang Inah tunggu….” Inah beranjak pergi ke kamar tidurnya. Bulik dan paklik juga menuju ke kamar orang tuanya.

Inah mencoba memejamkan mata, rasa kantuk belum juga datang. Angannya kembali pada peristiwa sore tadi, sebagai gantinya Inah berimajinasi sedang mengocok penis seorang laki-laki dewasa. Dilepaskannya kaos dan BH, juga bawahan. Kini hanya celana dalam yang Inah kenakan. Dengan kain jarik, ditutupinya tubuh yang telanjang. Inah mulai merangsang dirinya dengan meraba-raba kemaluan yang masih tertutup celana dalam. Kembali ia terangsang, masturbasi kembali dilakukannya….. maklum anak bongsor ini termasuk gedhe nafsu libidonya. Setelah beberapa saat Inah mendapatkan orgasmenya, rasa lelah dan kantuk mulai menyerang. Malam ini di dalam tidurnya Inah merasakan kenikmatan lain, ia merasakan remasan lembut pada payudara kirinya dan emutan diselingi gigitan kecil pada puting payudara kanannya. Hal ini dirasakan Inah sebagai pengalaman baru, tidak pernah terpikirkan olehnya jika payudara yang dikenyot dapat membuatnya terangsang. Selama ini yang Inah pikirkan bahwa payudara hanya untuk menyusui bayi, tetapi mimpinya berkata lain. Ia rasakan rangsangannya semakin kuat.
Betapa kagetnya Inah, setelah ia tersadar bahwa ini bukanlah mimpi. Kain selimutnya sudah pergi entah kemana. Didapatinya lik Ali tengah asyik meremas-remas dan mengeyoti payudaranya. Segera Inah tersentak, dijambaknya rambut lik Ali. Maksud hati ingin melepaskan mulut lik Ali dari payudaranya. Tetapi kenyataan berkata lain, lik Ali semakin kesetanan. Ia semakin kuat meremas-remas kedua payudara Inah, kini mulut Inah dibungkam oleh ciuman dasyat lik Ali. Untuk sementara waktu Inah gelagapan, ia sulit bernafas. Dalam pemberontakkannya Inah merasakan dirinya semakin terangsang. Beberapa saat kemudian Inah mulai tenang, bahkan ia mulai membalas kuluman bibir lik Ali. Lidah mereka beradu, ludah mereka bercampur. Remasan tangan lik Ali mulai lembut kembali bahkan sesekali puting payudara Inah dipencet-pencet. Inah semakin terangsang, kemaluannya mulai basah, nafasnya tak beraturan dan sesekali melenguh ketika ia merasakan titik rangsangnya disentuh.

Aktivitas mereka meningkat. Kini tangan lik Ali mulai turun dan menyentuh lembut permukaan kemaluan Inah yang masih tertutup celana dalam. Inah menggeliatkan badannya ketika tangan lik Ali menerobos masuk melewati celana dalam dan menyentuh clitorisnya. Benar-benar luar biasa….. rasanya berbeda dengan sentuhan jarinya sendiri. Jari lik Ali semakin aktif mengosoki clitoris Inah, sedangkan mulut lik Ali kembali beraksi pada payudaranya. Inah hanya bisa diam dengan mata terpejam menikmati apa yang sedang dilakukan pak lik-nya. Sesekali kedua tangan Inah menekan kepala lik Ali untuk lebih kuat menyedot payudaranya. Inah semakin lebar membuka pahanya, memberi kemudahan pada jari lik Ali yang sedang aktif menggosok clitorisnya.

Tiba-tiba, lik Ali menghentikan semua aktivitasnya. Rasa kecewa menyelimuti perasaan Inah. Tetapi itu tidak berlangsung lama, karena Inah melihat lik Ali turun dari tempat tidurnya, berdiri dan melepaskan sarungnya. Tampak oleh Inah penis lik Ali sudah mengacung tegang, mengkilat terkena cahaya remang lampu tempel.
Kembali lik Ali naik ke tempat tidur. Lik Ali mendekatkan penisnya pada Inah. Diraihnya tangan mungil Inah dan dituntun untuk memegang penisnya. Dengan ragu Inah memegang kemaluan suami adik emaknya itu. Inah menatap wajah lik Ali, dengan senyuman manis lik Ali mengangguk lembut, hal ini membuat keberanian Inah bertambah. Tidak hanya memegang, kini tangan mungil itu mulai menggenggam batang penis yang sudah tegang itu. Lik Ali menuntun genggaman tangan Inah dengan gerakan naik-turun pada kemaluannya. Setelah beberapa saat dilepaskan tangannya sehingga kini Inah sudah dapat melakukannya sendiri.
Lik Ali menikmati kocokan tangan Inah, kemudian tangan lik Ali kembali meremas-remas payudara gadis kecil itu. Inah semakin mempercepat kocokan pada penis lik Ali, demikian juga lik Ali semakin gemas meremas payudaranya dan sesekali memilin puting susu Inah, tidak ketinggalan tangan kanan lik Ali kembali masuk menerobos celana dalam Inah dan mempermainkan clitorisnya. Mereka berdua berpacu dengan nafsu, masing-masing meresapi rangsangan. Irama permainan semakin meningkat, hingga tiba-tiba tangan Inah merasakan penis lik Ali berdenyut kencang dan ….
Oouughhhh…… Hheegggghhh…..
Tubuh lik Ali mengejang, tangannya semakin kuat mencengkeram payudara Inah, sprema menyemprot tepat pada wajah Inah. Bebepara kali semprotan itu terasa kuat menerpa wajah Inah, dan kemudian tubuh lik Ali lemas dengan nafas ngos-ngosan. Tangan Inah mengurut penis lik Ali dengan kuat untuk terakhir kalinya. Terlihat sperma meleleh di wajah dan tangan Inah.
“Ohh…. terima kasih Nah,…. nikmat sekali rasanya….” bisik lik Ali di telinga Inah.
Inah seperti terjaga, ia segera sadar.
“Sudahhh… lik…. sana kembali ke kamar, nanti ketahuan…..” pinta Inah sedikit memaksa
“Kamu kan belum ‘dapet’ tho Nah…?”
“Besok-besok kan masih ada waktu, lik” kata Inah sambil mendorong lembut dada lik Ali
“Baiklah…. aku masih hutang padamu, Nah….” kata lik Ali sambil berdiri
Lik Ali segera mengenakan kembali sarungnya, terlihat tonjolan penis masih tercetak di balik sarung. Inah hanya tersenyum melihat bentuk sarung yang tidak rata itu.
Lik Ali menghapirinya dan mendaratkan kecupan lembut pada bibir mungil Inah. Inah-pun menerima kecupan itu dengan sedikit membuka bibirnya.
“Sekali lagi… terima kasih, Nah…” kata lik Ali sebelum menghilang di balik korden.
Inah tersenyum senang, tidak disangka hari ini dia mendapat dua pengalaman baru. Tangan Inah menyeka sperma yang membasahi wajahnya, telapak tangan yang basah oleh sperma itu kemudian diusapkan pada kedua payudaranya. Sensasi bau sperma yang mirip dengan bau bunga akasia kembali membuat Inah kecil terangsang, apalagi tadi ia belum mendapatkan orgasmenya. Kembali tangan mungil itu menyentuh kemaluan dan Inahpun melakukan “Self Service” hingga puncak orgasme didapatkannya.

Minggu pagi ini udara terasa dingin, rasa kantuk masih menggayuti Inah. Peristiwa semalam membuat ia kehabisan tenaga. Akhirnya iapun memutuskan untuk segera bangkit dari tempat tidurnya. Hanya dengan kain Inah menyelimuti tubuh telanjangnya dan pergi ke kamar mandi. Ia rasa mandi pagi ini akan membuat badannya segar kembali. Setelah selesai mandi, Inah menuju ke dapur untuk membuat minuman hangat. Masih dengan berkemben kain ia melakukan aktivitasnya. Karena habis keramas, terlihat tubuh anak ini tercetak lekat pada kain yang basah. Setiap mata lelaki pasti akan melotot melihat kemolekan gadis desa yang satu ini. Payudara yang montok tampak jelas tercetak pada kain demikian pula putingnya.

Beberapa saat kemudian masuklah bulik Ali.
“Wah… rajin betul kamu Nah, pagi-pagi sudah ada di dapur”
“Ahh… bulik….” Inah tidak dapat menutupi keterkejutannya, ia menundukkan kepala dan merasa bersalah dengan apa yang dilakukan dengan suami buliknya semalam.
“Semoga saja bulik tidak tahu peristiwa semalam” pikir Inah.
“Lho kok terus diam, ada apa Nah”
“Nggak kok bulik…. paklik Ali kemana kok tidak kelihatan ?” tanya Inah mengalihkan perhatian.
“Oohh… pagi-pagi benar ia sudah pergi ke terminal mau ke Semarang katanya”
“Ohh….” hanya itu yang dapat keluar dari mulut mungil Inah.
“Umur kamu sekarang berapa Nah ?”
“12 tahun bulik, ada apa sih kok tanya umur segala ?” balas Inah penasaran
“Nggak… tubuh kamu bagus banget Nah, payudaramu juga montok…. bulik iri lho”
Memang bulik Ali orangnya tinggi, kurus, dan yang pasti payudaranya hanya seukuran cangkir teh, KUTILANG DARAT (kurus, tinggi, langsing, dada rata), kalau dibandingkan dengan Inah kalah jauh.
“Aahh… bulik ini, Inah hanya dapat bersyukur dengan pemberian Tuhan ini, lik…”
“Pasti banyak lelaki yang ingin meremas payudara mu ini, Nah…” kata bulik Ali sambil meremas payudara Inah.
Inah kaget dengan apa yang dilakukan buliknya. Dengan gerakan reflek ia mundur selangkah.
“Kenapa Nah….?”
“Geli bulik…. badan Inah jadi merinding….”
“Hhaaa…. hhhaa….. hhhaaa” bulik Ali tertawa.
“Kok ketawa, Lik ?”
“Berarti kamu mudah sekali terangsang…. libidomu besar, Nah”
“Memang kok Lik, Inah gampang sekali terangsang, jangankan payudara yang disentuh, tangan ini kalau diraba dengan lembut perasaan Inah jadi nggak karuan” Inah menjelaskan dengan lugunya.
“Oh Ya…. ?”
“Iya Lik, kalau sudah begitu payudara rasanya semakin membesar dan putingnya terasa gatal….”
“Kalau diterusin pasti kemaluanmu jadi basah, ya nggak Nah ?” bulik meneruskan
“He-Eh…” jawab Inah sambil menganggukkan kepalanya.
“Kalau sudah begitu terus kamu ngapain…?”
“Ah… bulik ini, Inah jadi malu…”
“Nggak usah malu, kita kan sama-sama wanita…. jadi bulik juga merasakannya seperti kamu…”
“Janji…. bulik jangan ngomong ke orang lain…?”
“Wahh… ada rahasia-rahasiaan nih… baik, bulik janji…”
“Inah suka masturbasi kalau lagi terangsang…” bisik Inah pelan
“Sudah bulik duga, tapi kamu nggak usah malu… bulik juga melakukannya. Habis paklik-mu ogah-ogahan kalau diajak ngesex….”
Tidak disangka, bulik membuka rahasia pribadinya… itu berarti kata hati yang terpendam lama. Pikiran Inah kembali mengulang peristiwa semalam. Kiranya menjadi kebalikkan dengan cerita bulik Ali, semalam paklik tampak agresif sekali dengannya.
“Kalau begitu bulik sering kesepian dong…”
“Iya Nah….. paling-paling masturbasi terus tidur”
“Gimana sih rasanya ngesex itu, Lik ?” tanya Inah dengan lugunya
“Gimana ya…. pokoknya lebih enak dari masturbasi….”
“Inah jadi pingin ngrasain…”
“Huss… kamu masih terlalu kecil, Nah…” bulik Ali mengingatkan.
Inah hanya tersenyum, padahal semalam jika ia tidak ingat akan bulik-nya pasti ia dan paklik Ali sudah berhubungan sex.
“Lho kok malah ngelamun…..” teguran bulik menyadarkan Inah, “Ya sudah… bulik mandi dulu…. karena sudah janjian sama teman…”
Bulik Ali berlalu menuju ke kamar mandi, Inah kembali tersenyum. Semalam hanya dengan petting sudah membuat Inah merasakan nikmat, apalagi kalau penis lik Ali yang besar itu masuk ke dalam vaginanya, pasti rasanya akan tambah nikmat. Semakin tak sabar Inah ingin merasakan nikmatnya berhubungan sex, tak cuma harus masturbasi setiap kali ia terangsang.

Sebulan telah berlalu ……… Hanya penis paklik Ali yang selalu menjadi obyek khayalannya ketika masturbasi. Dapat dimaklumi, karena penis itulah yang secara nyata dipegang dan dipuasinya. Kini semua itu tinggal kenangan, harapan untuk berhubungan sex dengan lik Ali pupuslah sudah. Dua minggu yang lalu paklik Ali tewas dalam kecelakaan, sedih hati Inah. Selain menyesali diri atas kesempatan yang pernah ada dengan keinginan untuk tidur bersama pamannya tidak kesampaian.

Pengalaman pertama yang tidak terlupakan akan selalu mencari kesempatan untuk melakukan yang kedua dan seterusnya. Demikian pula Inah, setiap ada kesempatan ia selalu saja mencari cara untuk memanfaatkannya. Libidonya yang besar membuat ia selalu ingin melakukan hubungan sex secara nyata. Hingga suatu hari ketika sore itu ia pergi mandi di kali seberang desa, sengaja ia datang pada jam 15.00 karena setelah beberapa hari Inah mengamati, jam-jam tersebut masih sepi dan hanya ada 1 – 2 orang lelaki saja yang mandi.
Ternyata dugaan Inah kali ini tidak meleset, di kali itu hanya ada seorang lelaki Karno namanya, usia 15 tahunan, berbadan sedang, kulit hitam khas penggembala kerbau.
“Lho tumben Nah, jam sekian sudah sampai di sini” tanya Karno keheranan
“Iya No, maklum hari ini panas banget… aku nggak kuat…. gerah…” balas Inah berbohong
“Ohh….” Karno menjawab singkat sambil meneruskan mandinya.
Inah yang hanya berkemben kain itu segera masuk ke dalam kali. Ia sudah mempersiapkan jebakan sehingga tanpa mengenakan celana dalam maupun BH tubuh telanjangnya hanya ditutupi kain untuk kebenan. Sebenarnya kali ini tidak terlalu dalam, di tepian permukaan air hanya sebatas paha saja. Sehingga kalau mandi dengan berjongkok permukaan air akan mencapai sebatas leher.
Setelah meletakkan bakul dan peralatan mandinya Inah segera membenamkan tubuhnya ke dalam air. Dan secara perlahan kembali tubuh yang berkemben itu naik ke permukaan air. Begitu berulang-ulang sehingga dapat dibayangkan, tubuh Inah yang montok tercetak sangat jelas oleh kain yang basah. Hal ini tidak luput dari pengamatan Karno, dari curi-curi pandang hingga akhirnya ia pun menatap dengan mata melototi tubuh Inah yang sital itu. Inah tahu kalau jebakannya mulai mendapatkan mangsa, ia tahu kalau Karno tanpa berkedip memandangi tubuhnya walaupun masih tertutup kain basah, dan iapun tahu kalau Karno secara tidak sadar tubuh bagian bawahnya keluar dari permukaan air dan Karno juga tidak sadar jika penisnya sudah ereksi. Inah hanya tersenyum melihat Karno yang melongo tanpa berbuat apa-apa…..
Setelah bagian pertama dilakukannya, kini Inah melakukan rencana keduanya. Dengan sengaja Inah menyabun tangan dan kakinya, dengan menopangkan kakinya di atas batu kali, Inah menggosok kaki terus naik ke paha. Kain ia tarik sedemikian rupa sehingga paha mulusnya tampak sempurna nyaris memperlihatkan kemaluannya. Mata Karno semakin melotot, dan yang lebih menggelikan Inah bahwa tangan kanan Karno mulai mengurut penisnya. Kena kau…. kata Inah lirih. Setelah tangan dan kaki Ia bersihkan, sekarang tangan Inah mulai masuk ke payudara dan menggosoknya dengan sabun. Sengaja Inah tidak melepaskan kainnya, dan ia menempatkan posisi tubuhnya sedikit miring sehingga aksi itu tidak sepenuhnya terlihat oleh Karno. Benar juga, kali ini Karno semakin kelimpungan, tampak dari lirikan Inah badan Karno di condongkan ke kiri agar ia dapat melihat moment tersebut.
Setelah membasuh badannya, Inah berbalik menghadap Karno. Ia tersenyum, dengan sedikit membuka bibirnya dan lidahpun sedikit terjulur, tampak seksi dan sangat merangsang. Karno masih saja terhipnotis dengan pemandangan di depan matanya. Inah mengambil bakul dan membereskan peralatan mandinya, iapun segera naik ke permukaan dan menghilang di balik rimbunnya semak tak jauh dari kali. Di balik semak Inah mengintip apa yang akan dilakukan Karno. Betul dugaan Inah, Karno masih saja mengocok penisnya dan setelah sadar Karnopun menengok kanan – kiri mencari Inah yang telah lenyap dari pandangan matanya. Karno segera naik dan mengenakan sarungnya. Tampak tonjolan penis tercetak jelas di balik sarung yang dikenakannya. Dengan tergesa ia mencari dimanakah Inah berada.
Sekarang Inah mulai menjalankan rencana ketiganya. Dengan sengaja ia menggerak-gerakkan semak yang menutupi tubuhnya, ia ingin agar Karno mengetahui di mana ia bersembunyi. Beberapa saat kemudian Inah melihat sosok tubuh Karno mulai terlihat, segera ia berbalik badan dan melepaskan kain penutup tubuhnya. Kini Inah dapat merasakan kehadiran Karno di belakangnya, ia pun tahun mata Karno akan semakin melotot melihat ketelanjangannya, iapun merasa yakin penis Karno akan semakin tegang. Inah hanya dapat tertawa dalam hati. Rencana terus berlanjut, dengan sengaja Inah membungkukkan badannya sehingga dengan jelas pantat dan kemaluannya terlihat oleh mata Karno.
Pemandangan di depan mata membuat Karno semakin tidak tahan. Penisnya ereksi hebat, dengan perlahan Karnopun menurunkan celananya hingga kemaluannya yang tegang bebas mengacung di udara. Perlahan tangan Karno mulai menguruti kemaluannya, pandangannya tak lepas sedikitpun menatap tubuh telanjang Inah yang sital. Karno tak kuat menahan nafsu birahinya, ia berjalan perlahan mendekati Inah yang telanjang. Dari arah belakang dipeluknya gadis itu, diremasnya payudara yang montok, dicium lembut tengkuk mulus Inah. Dengan berpura-pura kaget, Inah membalikkan badannya.
“Ohh…. apaan sih kang…!” kata Inah pura-pura kaget
“Nah….. aku nggak kuat….” Karno memelas
“Apanya yang yang kuat kang…”
“Ayolah Nah… jangan siksa aku…..”
“Ihhhh….” Inah berteriak kecil sambil menutup wajahnya dengan tangan ketika ia melihat kemaluan Karno yang sudah tegang. Dalam hati Inah tertawa, jebakkannya berhasil !
“Ayolah Nah…..” Karno mencoba membuka tangan yang menutupi wajah Inah.
“Kok kemaluannya gedhe banget kang….” kata Inah sambil menunjuk ke arah kemaluan Karno.
“Nah… Inah…” Karno yang telah diselimuti nafsu itu segera menuntun tangan kanan Inah ke arah kemaluannya.
Dengan berpura-pura malu Inah memalingkan wajahnya, tetapi tangan yang sudah menyentuh kemaluan Karno tidak menolak untuk menggenggam. Karno menuntun tangan Inah untuk melakukan gerakan mengurut maju-mundur. Desiran hebat membuat Karno menahan nafasnya. Kini tangan Inah mulai aktif tanpa bantuan dari Karno. Karno memejamkan matanya menikmati kocokan lembut pada kemaluannya. Sekarang giliran Inah yang mulai dirasuki nafsu, desiran halus pada kemaluannya serta rasa gatal pada puting payudara membuat tangan kiri Inah mulai meraba dan memilin puting payudaranya. Desahan nafas mereka mulai terdengar, masing-masing menikmati apa yang mereka rasakan. Aktivitas Inah mulai meningkat, tangannya secara perlahan turun hingga menyentuh kemaluan yang ditumbuhi rambut tipis itu. Perlahan tapi pasti jari-jari Inah mulai digosokkan pada clitorisnya. Inah merasakan cairan vagina mulai membasahi kemaluannya, demikian juga cairan bening yang keluar dari ujung kemaluan Karno-pun dirasakannya.
Tak hanya diam, Karno mengulurkan tangannya dan menangkap sepasang payudara montok miliki Inah. Secara perlahan diremas-remas serta sesekali dipilinnya puting merah jambu itu.
Keduanya semakin kesetanan, Karno segera memeluk dan mencium bibir mungil gadis desa itu. Lidah mereka beradu, ciuman maut mereka lakukan. Tangan kiri Karno memeluk leher mulus Inah, sedangkan tangan kanannya terus aktif meremas payudara gadis itu. Demikian juga dengan Inah, tangan kanannya masih saja mengocok lembut kemaluan Karno, sesekali kepala kemaluan itu digesek-gesekkan pada clitorisnya. Baik Karno maupun Inah sama-sama merasakan kenikmatan awal permainan birahi ini.
Merasa bosan dengan ciumannya, mulut Karno beralih pada payudara yang montok. Kuluman mulutnya serta gigitan kecil pada payudara Inah semakin membuat pemiliknya merasakan sensasi yang luar biasa. Inah merasakan kenikmatan lain, dengan memejamkan matanya Inah meresapi apa yang sedang terjadi bahkan ia sempat menghentikan kegiatan mengocok batang kemaluan Karno. Dilepaskan tangannya, dan kini kedua tangan Inah menekan kepala Karno yang sedang mengenyoti payudaranya.

Aktivitas terus meningkat, Karno merebahkan tubuh Inah. Dibukanya lebar-lebar kaki gadis itu, sekaran tampaklah belahan kemaluan Inah terpampang jelas di depan matanya. Karno segera mengarahkan mulutnya, lidahnya dengan aktif menjilati kemaluan Inah. Badan Inah seperti kena setrum ribuan watt, meliuk-liuk ke kanan-kiri, tangan Inah semakin menekan kepala Karno yang tengah asyik melakukan oral sex.
“Kanggg…. aakkku juga pinggin…. ngemutt miiilikk muuu…” kata Inah disela-sela kenikmatan.
Tanpa komando Karno segera memutar badanya, posisi kemaluan Karno kini tapat pada mulut mungil Inah. Dengan segera Inah melahap apa yang ada dihadapannya. Sedotan mulut pada kemaluan Karno membuat si empunya semakin menahan nafas. Kegiatan ‘69’ yang mereka lakukan terasa semakin gila, saling sedot dan saling kulum membuat keduanya semakin kesetanan.
“Kangg…. akkuu… sudaah nggaaak tahannn….. mmmassuukkiin yaa kanggg..!” kata Inah setelah melepaskan batang kemaluan Karno dari mulutnya.
Karno segera mengatur posisi, paha Inah dikangkangkan sedimikian rupa hingga terbukalah kemaluan gadis kecil itu. Tampak lubang kemaluan yang memerah dan basah. Karno bersiap untuk memasukkan kemaluannya pada vagina Inah, digesek-gesekkan kepala kemaluan itu pada bibir vagina Inah. Ketika sudah menemukan lubang, perlahan ditekannya kemaluan dengan perlahan.
“Peelllannn…. kangg…..” rintih Inah ketika ia merasakan benda tumpul itu memasuki vaginanya.
“Oaaghhh…..” Inah menjerit kecil, dipelunya dengan ketat tubuh Karno ketika batang kemaluan itu melesak jauh ke dalam vaginanya.
“Hhgggghh……” Inah mengigit pundak Karno ketika batang kemaluan yang ereksi itu perlahan ditarik keluar dari vaginanya, darah segar meleleh disela-sela kemaluan Inah dan juga membasahi batang kemaluan Karno. Hilang sudah mahkota gadis desa itu.
Sekarang dengan perlahan Karno mulai melakukan gerakan maju-mundur memasukkan batang kemaluannya. Inah masih merasakan perih pada vaginanya, ia hanya dapat menahan rasa perih disela-sela kenikmatan. Tetapi ketika Inah menggoyangkan pantatnya, rasa perih itu berangsur-angsur hilang berganti dengan rasa geli dan nikmat. Disela-sela keluar masuknya kemaluan, Karno kembali melakukan aktivitas mulut pada payudara Inah. Inahpun semakin merasakan kenikmatan, baik vagina maupun payudaranya semakin gatal saja. Berdua berpacu dalam nafsu, semakin cepat Karno menggerakkan kemaluannya demikian juga goyangan pantat Inah tak mau ketinggalan.
Di balik ribunnya semak di pinggir kali, menjadi saksi hubungan sexual antara dua anak manusia berlainan jenis. Mereka terus meningkatkan kecepatan dan aktivitasnya.
“Aahhhggg…. kkaangg….. akkku…..kkeelluuaarr….kaanngg….!” Tubuh Inah mengejang beberapa kali, dipeluknya Karno dengan kuat. Inah mendapatkan orgasmenya dengan hebat. Tetapi Karno masih kuat, ia belum merasakan adanya tanda-tanda akan ejakulasi. Goyangan semakin ditingkatkan, Inah yang sudah lemas hanya bisa diam, ia hanya mampu mendengar nafas Karno yang ngos-ngosan. Tetapi hal itu terjadi tak begitu lama, Inah kembali merasakan gesekan kemaluan Karno pada vaginanya membuat nafsu gadis desa ini mulai bangkit kembali.
“Ayyyoo…. kangg….. teruuuss…. Oohhh….. ennnakkk kanggg…..!” kata Inah sambil menekan tangannya pada pantat Karno.
Seperti mendapatkan semangat baru, Karno tanpa henti menggenjotkan batang kemaluannya. Inah kembali menggoyangkan pantatnya. tiba-tiba Karno menghentikan gerakkannya dan tubuh itu ambruk dalam pelukan Inah.
“Capek kang…..” bisik Inah.
“He-eh….” hanya itu suara yang keluar dari mulut Karno di sela nafas yang ngos-ngosan.
“Gantian kang…. biar Inah yang di atas…”
“He-eh….”
Karno melepaskan batang kemaluan dari vagina Inah. Sekarang mereka berganti posisi, Karno membaringkan badannya, tampak batang kemaluan itu mengacung tegang. Dengan perlahan Inah mula merangkak di atas tubuh Karno. Perlahan digenggamnya batang kemaluan itu, dituntunnya memasuki vagina. Setelah dirasakan tepat pada lubang, Inah dengan lembut perlahan menurunkan pantatnya.
“Aaggghh…….” Inah menjerit kecil dan menahan nafasnya seiring dengan melesaknya batang kemaluan Karno ke dalam vaginanya.
Giliran Inah yang aktif menggerakkan pantatnya naik turun, sesekali diputarnya pantat itu. Karno merasakan sensasi lain, kemaluannya serasa dipilin-pilin oleh vagina Inah. Dengan leluasa tangan Karno meremasi kedua bukit kembar montok berputing merah jambu itu.
Inah yang berada di atas tubuh Karno semakin menikmati apa yang dirasakannya. Ia dapat mengendalikan arah mana yang membuatnya merasa nikmat. Baik gesekan kemaluan pada vaginanya maupun remasan lembut pada payudaranya membuat Inah semakin kelimpungan. Tak lama kemudian Inah merasakan desakan hebat melanda tubuhnya. Dilentingkan tubuh gadis desa itu ke belakang, dibenamkannya pantat dalam-dalam hingga ujung kemaluan Karno menyentuh dasar vaginanya, dipegangnya tangan kekar Karno untuk meremas payudaranya dengan kuat. Desakan orgasme tak tertahankan.
“Oouuggghhh…… Aaghhhh…!” jeritan kenikmatan keluar dari mulut mungil Inah.
“Ayo…. Nah… turunnn….” perintah Karno sambil mendorong tubuh Inah untuk segera turun dari tubuhnya.
Dengan cekatan tangan Karno mengocok batang kemaluannya.
“Aku…. maauu keeeluuaar… Nah…..!”
Pengalaman Inah dengan lik Ali membuatnya tidak tinggal diam. Segera disingkirkan tangan Karno yang sedang berkativitas itu. Dengan segera mulut Inah kembali melakukan oral sex. Sedotan mulut mungilnya serta kocokan lembut tangan Inah pada batang kemaluan Karno semakin dipercepat, hal ini membuat Karno semakin tak dapat menahan desakan dari dalam tubuhnya.
“Oougghhh……… Hhhgggghhh…….” tubuh Karno mengejang seiring dengan keluarnya sperma dari ujung kemaluannya.
Inah tidak mengira jika orgasme Karno akan berlangsung cepat, Inah tidak sempat melepaskan mulutnya hingga sperma yang keluar itu masuk dan tertelan olehnya, rasa asin dan gurih sperma dirasakannya untuk pertama kali.
Setelah semuanya mereda, dengan lembut Karno memeluk dan mengecup pipi Inah.
“Terima kasih Nah….”
“Iya kang…. Inah juga seneng……”
“Kamu tidak nyesel, Nah…?”
“Ah… kang Karno…. Inah rela kang….” senyum manis tersungging, kini giliran Inah mengecup pipi Karno.
Dua anak manusia yang berlainan jenis itu diselimuti rasa bahagia, tetapi mereka tidak sadar kalau ada sepasang mata yang tengah memperhatikan kegiatan mereka di dalam rimbunnya semak.

Malam ini kembali acara pemutara film di lapangan desa diadakan. Dengan antusias Inah beserta teman-temannya merencanakan untuk nonton.
Senja sudah bergulir berganti malam pekat menyelimuti desa, dengan membawa senter Inah berjalan beriringan dengan beberapa gadis. Seperti biasa mereka berjalan menyusuri kebun dan landang untuk segera sampai ke lapangan desa.
Film yang diputar kali ini tidak jauh berbeda dengan film-film sebelumnya, film ‘panas’ ala Indonesia yang terlalu menonjolkan paha dan dada itu dinikmati betul oleh Inah. Dia selalu membayangkan adegan film itu dengan dirinya sendiri, mau tak mau nafsu birahi mulai merasuki dirinya. Kemaluannya mulai mengeluarkan cairan membasahi celana dalam, payudara serasa membesar dan putingnyapun mengeras.
“Hai… nonton apa ngelamun…?” sapa Karjo
“Ohh… kamu Jo….” jawab inah malu, untung keadaan sekitar gelap tanpa lampu, coba kalau terang pasti wajah Inah yang memerah akan tampak terlihat oleh Karjo.
“Boleh aku duduk di sampingmu, Nah…?”
“Silahkan Jo….”
Kembali mereka tenggelam dalam keasyikan menonton film yang semakin seru. Adegan ciuman tampak di hadapan mereka, terus berlanjut hingga adegan ranjang. Walaupun telah disensor, adegan tersebut sangat mempengaruhi penontonnya tak terkecuali Inah dan Karjo yang duduk di sampingnya. Karena sudah sejak tadi nafsu birahi telah mengusai Inah, adegan kali inipun semakin membuatnya tak sadar untuk meraba-raba kemaluannya. Karjo yang duduk di samping Inah sudah memperhatikan tingkah laku gadis ini, mau tak mau iapun mulai terangsang. Penisnya menegang, nafsu birahipun semakin menguasainya.
Karjo memberanikan diri memeluk Inah yang tengah asyik menikmati rabaan tangannya. Tak hanya memeluk, tangan Karjo mulai turun dan memegang payudara montok Inah. Inah hanya terdiam dan memejamkan matanya. Karjo semakin berani, kini remasan lembut pada payudara Inah semakin membuat Inah terangsang. Dengan sengaja Inah melepaskan dua kancing bajunya, hal ini dilakukan agar tangan Karjo lebih leluasa masuk menerobos BH dan menemukan gumpalan payudaranya. Remasan serta rabaan lembut pada puting payudara, membuat Inah semakin bernafsu, gosokkan tangan yang tadinya berada pada permukaan kemaluannya kini berlalih pada tonjolan celana Karjo yang ada di sampingnya. Inah menemukan penis Karjo yang sudah ereksi di balik celana panjangnya. Tangan Inahpun tidak tinggal diam, dia meremas-remas dengan lembut batang kemaluan yang sudah tegang itu. Kegelapan malam membuat kegiatan mereka tidak diketahui orang lain, apa lagi jarak antara satu dengan yang lainnya agak berjauhan. Film tidak lagi mereka tonton, kegiatan meremas menjadikan mereka asyik menikmati desiran dan rangsangan pada tubuh mereka.
Semakin tak tahan, Karjo membuka resluiting celananya dan menuntun tangan Inah masuk ke dalam celana dalamnya. Inahpun menemukan batang kemaluan Karjo yang sudah tegang itu. Tetapi segera pikiran Inah melayang membandingkan antara kemaluan lik Ali dan Karno. Dibandingkan dengan mereka kemaluan Karjo tergolong kecil dan tidak begitu tegang. Namun karena nafsu sudah di ubun-ubun tangan Inahpun melakukan remasan dan urutan lembut pada kemaluan Karjo. Sekarang giliran Karjo yang melepaskan tangannya dari payudara montok Inah. Perlahan tangan itu menyusup menerobos dibalik rok yang dikenakan Inah. Dengan sedikit gerakan, tangan Karjo menyibak celana dalam Inah dan menemukan gundukan daging berambut tipis sang gadis. Jari-jari Karjo mulai beraksi pada tonjolan kecil disela-sela belahan kemaluan itu, digosoknya perlahan hingga membuat Inah semakin kuat menggenggam kemaluan Karjo. Kegiatan semakin meningkat, nafsu birahi telah membutakan mereka.
“Nah… aku pingin……” bisik Karjo
“Jjaangann… ddii ssinnii Jooo” balas Inah dengan berbisik pula.
“Ayyooolah Nahh….” Karjo sedikit memaksa.
“Nggak aahhh… diginiin saajjaa…..”
Tiba-tiba saja Karjo menghentikan kegiatan pada kemaluan Inah dan dengan sedikit kasar iapun melepaskan tangan Inah dari kemaluannya.
“Kok berhenti, Jo…?” tanya Inah penasaran
“Kalau kamu nggak mau ya sudah….” kata Karjo cuek.
“Dikocok saja kan sudah enak Jo…”
“Kalau sekedar itu aku sudah sering melakukannya…. aku ingin kemaluanku ini masuk ke dalam kemaluanmu…. aku ingin berhubungan sex dengan mu, Nah….!” bisik Karjo dengan ketus.
“Ah…. kamu jo….. aku takut….”
“Kalau kamu nggak mau….. aku akan bongkar rahasia yang sudah lama ku pendam….. aku tahu kalau kamu dan Karno pernah melakukannya di semak-semak pinggir kali…. ya tho…?”
“Ha….” Inah terkejut bukan kepalang, dia mengira waktu itu hanya ada dia dan kang Karno saja.
“Ayolah Nah…. beri aku seperti Karno….. kalau kamu nggak ingin rahasia ini beredar di mana-mana…” kata Karjo sambil berdiri dan berjalan meninggalkan Inah sendiri.
Inah hanya terdiam, pikirannya bekerja dengan keras….. di satu pihak dia sudah terangsang dengan apa yang dilakukan Karjo, di lain pihak dia tidak ingin rahasianya dibongkar. Hanya ada satu jawaban, Inah harus melayani Karjo seperti ia melakukan hubungan sex dengan kang Karno. Inahpun berdiri dan berjalan menghapiri Karjo yang sudah duduk jauh darinya.
“Baiklah Jo…. akan aku layani kamu…. tapi janji ya… jangan bocorkan rahasia ini….” bisik Inah
“Nah… begitu dong…..” kata Karjo sambil tersenyum.
“Kalau begitu, kamu jalan duluan ya….. tunggu aku di gubug ladang Pak Marto….” perintah Inah pada Karjo
“Oke… aku tunggu di sana….. awas kalau nggak dateng….” Karjo mengancam sambil berlalu menginggalkan Inah.
Demikianlah, akhirnya Inah harus melayani nafsu birahi Karjo di gubug Pak Marto. Dari mulut ke mulut berita cepat menyebar di kalangan para pemuda desa. Sekarang Inah terkenal dengan sebutan “Piala Bergilir”
Itulah sekelumit kisah dari Inah sewaktu muda dulu, tak heran memang pembantuku ini terlihat masih sexy dan kemayu.

Acara memijat terus berlanjut, karena badan ini merasakan mantapnya pijatan Inah tidak terasa akupun tertidur dengan pulasnya. Entah kapan Inah mengakhiri pijatannya, karena sewaktu aku terbangun hari telah sore dan ia sudah tidak berada di tempat dan tubuh telanjangkupun hanya berselimut kain. Akupun bergegas mandi, dengan air hangat tubuh ini semakin segar saja rasanya.

*****

Sore itu, sepulang dari kantor, aku menyempatkan diri untuk mampir ke Super Market. Belanja kebutuhan sehari-hari, buah, sayur dan lainnya serta beberapa jenis kosmetik yang aku butuhkan. Setelah usai membayar belanjaan, bersama dengan seorang porter aku segera menuju ke tempat parkir. Dengan sigap dan cekatan poter muda itu memasukkan barang belanjaan ke dalam bagasi mobil. Entah apa yang membuat aku selalu memperhatikan bagian depan celana si porter muda ini. Terlihat tonjolan yang menggembung di balik celana ketatnya. Pikiranku semakin ngeres, desiran halus merambati tubuhku. Sebegitu besarkah ‘barang’ parter muda ini ? kataku dalam hati. Entah dia sadar atau tidak perhatianku tetap tertuju pada tonjolan itu. Semakin lama aku tidak dapat menahan gejolak ini. Aku merasakan cairan vagina mulai membasahi celana dalam. Pikiranku sudah tertutupi oleh nafsu birahi yang semakin menguat, sehingga ketika poter muda itu meminta tips karena tugasnya sudah selesai. Aku kaget dan tersipu malu.
Dalam perjalanan pulang, nafsu sudah di ujung kepala. Aku semakin tidak dapat menahannya, dengan segera aku tepikan mobil ke tempat yang agak gelap. Segera rok mini kuangkat dan celana dalam yang sudah basah aku turunkan hingga tumit. Tangan dan jariku segera melakukan gesekan pada clitoris. Tak hanya itu, jari tengah mulai ku masukkan ke dalam lubang vagina dan menyentuh G-Spot. Seperti mendapat sengatan listrik, tubuhku mengelinjang. Dengan irama ritmis aku menggosok-gosokkan jari tengah pada G-Spot. Sesnsasi yang luar biasa, nafasku mulai tidak teratur menahan gejolak nafsu yang semakin meninggi. Semakin lama semakin cepat kocokan jari tengah pada vagina, hal ini dikarenakan orgasmeku juga sudah semakin dekat. Akhirnya tubuhku serasa membumbung dan terjatuh dengan cepat. Orgasme itu datang, kenikmatan tiada tara aku dapatkan. Badan terasa lemas seperti tanpa tulang. Aku sandarkan badan ini pada kursi mobil. Dengan mata terpejam aku nikmati sisa-sisa orgasme yag baru saja aku dapatkan.
Setelah semua normal kembali, aku melepas celana dalam dan aku gunakan untuk membersihkan cairan vagina yang meleleh. Aku lihat celana dalam itu basah oleh cairan vagina yang keluar bersamaan dengan orgasmeku, dengan begitu saja aku lempar celana dalam itu ke jog sebelah kiri. Setelah aku merapikan rok mini, ku starter mobil dan kembali berjalan untuk pulang ke rumah. Perasaan ini menjadi lega setelah aku mendapatkan kenikmatan bermasturbasi. Memang gairahku sangat besar, dan sering muncul dengan tiba-tiba sehingga untuk menuntaskannya aku harus melakukan masturbasi. Jeleknya, nafsu itu sering muncul di tempat umum, kalau sudah begitu hanya dalam mobil pribadi aku menuntaskannya. Untuk itulah kaca mobil ini aku bikin gelap, sehingga orang yang berada di luar tidak dapat melihat apa yang aku lakukan.

Sesampai di rumah, aku bergegas masuk dengan tujuan utama adalah kamar mandi. Karena tergesa-gesa, aku tidak melihat Harso yang tiba-tiba keluar dari kamar mandi. Kami berdua bertabrakan, karena badanku lebih besar Harsolah yang terdorong ke belakang sehingga kepalanya sempat terbentur dinding.
“Oh, maaf…. Har…..”
Harso hanya meringis sambil memegangi kepalanya.
Aku segera masuk kamar mandi dan menutup pintunya. Setelah beberapa saat aku teringat dengan belanjaan dan tas kerjaku yang masih berada di dalam mobil.
“Harso… tolong belanjaan dan tas ibu dimasukin ya….” teriaku dari dalam kamar mandi.
“Ya Bu…”

Aku bersihkan kemaluan dari sisa-sisa cairan vagina yang lengket, baru aku sdari kalau aku dari tadi tidak memakai celana dalam. Berati celana dalam itu masih berada di dalam mobil. Setelah bersih aku keluar dan ku lihat Harso belum juga masuk. Belanjaan juga belum ada di dapur, di atas meja kerja juga tidak terlihat tas-ku. Dengan penuh penasaran aku mencoba mengintip ke ruang garasi dimana mobil ku parkirkan.
Aku kaget sekali ketika melihat Harso masih berada di dalam mobil. Karena pintu samping mobil terbuka, aku dapat melihat dengan jelas apa yang sedang dilakukan anak pembantuku itu. Dengan mata terpejam Harso menciumi celana dalam ku yang tadi kupakai dan dalam keadaan basah oleh cairan vagina. Tidak hanya itu, tangan kanan Harso menyusup kedalam dengan gerakan naik turun. Terlihat tonjolan penisnya tercetak jelas, Harso melakukan onani di dalam mobil sambil menciumi celana dalamku. Melihat Harso melakukan onani nafsuku kembali bergolak, dengan sengaja aku membiarkan putra pembantuku itu melakukan onani dan akupun mulai meraba-raba kemaluanku sendiri. Akhirnya aku jadi tidak tahan. Aku berjalan mendekati Harso yang tengah menikmati onaninya.
“Kok lama sekali……” kataku mengejutkannya.
“Oh… maaf bu….” kata Harso malu.
“Tanggung ya….” kataku menggoda
“Ah.. ibu…”
“Kamu pingin seperti yang kemarin ?”
Harso hanya mengangguk.
Segera aku masuk ke dalam mobil. Pintu mobil ku tutup rapat. Wajah Harso sudah tidak seperti dulu lagi, rasa takut tidak tampak pada wajahnya yang lugu, bahkan sekarang dia sendiri yang melepaskan celana pendek beserta celana dalamnya. Terlihat kemaluan yang sudah ereksi penuh mengacung ke udara. Aku tak sabar, segera mulut ini mengarah ke kemaluannya. Sekali lahap habislah batang kemaluan Harso. Sedotan demi sedotan membuat tubuh Harso kecil menggeliat kesana kemari. Kedua tangan Harso memegangi kepalaku sambil mendorong dan menariknya seiring dengan keluar masuknya penis dalam mulutku.
Seperti mendapatkan semangat baru, irama semakin ku percepat ketika aku rasakan denyutan penis Harso semakin kuat. Tidak hanya dengan mulut, tanganku dengan cekatan mengocok penisnya kuat-kuat dan akhirnya keluarlah sperma dari ujung penis dengan semprotan kuat masuk ke dalam mulutku. Aku menelan semua sperma yang keluar dari penis dan dengan sedotan kuat aku habiskan sperma itu hingga tak bersisa.
Sekarang giliranku bersandar pada kursi mobil. Hanya dengan mengangkat rok miniku tamopaklah kemaluanku. Aku sudah tidak memakai celana dalam sedari tadi waktu bermasturbasi di jalan. Kini giliran mulut Harso menyerbu kemaluanku. Jilatan lidah pada clitoris membuat aku kelimpungan, terkadang lidah itu ditusukkan jauh ke dalam lubang vagina sehingga tubuhku seperti melambung tinggi menahan rangsangan hebat ini. Harso sudah semakin pandai, gigitan kecil pada clitorisku juga sangat mengejutkan ditambah dengan sodokan dua jari tangan Harso yang tiba-tiba menerobos masuk ke dalam lubang vaginaku. Tubuhku tersentak, nafasku menderu tak menentu, kepala bergeleng kesana sini menahan rangsangan yang diberikan Harso. Kocokan jari semakin cepat dan ditambah sedotan kuat pada clitoris membuat orgasmeku semakin dekat. Kucoba untuk menahannya tetapi desakan begitu kuat sehingga jebollah .
“Hgg…. aahhhhh……..” aku berteriak kecil sambil menekan kepala Harso dengan kuat pada kemaluanku.
Tubuhku meregang, mata tepejam rapat, aku gigit bibirku menahan kenikmatan yang luar biasa ini, dan akhirnya aku tersandar lemas di jog mobilku. Harso kembali duduk di sampingku, aku terdiam menikmati sisa-sisa orgasme yang baru saja aku dapatkan. Belum lama aku menikmatinya, tiba-tiba Harso dengan lembut meraih tanganku dan diarahkannya pada penisnya. Wow… anak muda ini benar-benar hebat, aku rasakan penis itu sudah membengkak lagi. Aku tersenyum memandangnya, dengan lembut aku meremas-remasnya.
“Kamu pingin lagi ya….? Tanyaku sambil tersenyum
“Iya bu… Harso pingin penis ini masuk ke kemaluan ibu…” katanya sambil menunduk
Oh… sebuah kejutan lagi…..
Aku tidak mengira kalau Harsolah yang mempunyai inisiatif ini, padahal sudah lama aku yang menginginkan tetapi masih diliputi rasa takut. Kesempatan ini tidak aku sia-siakan, dengan segera sandaran jog mobil aku turunkan sehingga posisi tubuhku terlentang dengan bebas. Aku tuntun anak SMP ini naik ke atas tubuhku. Dengan posisi kaki aku kangkangkan dan penis itu aku arahkan tepat ke dalam lubang vagina yang memang sudah menuntut untuk segera dimasuki penis tegang.
Kali ini aku melihat wajah Harso yang tegang, aku hanya tersenyum menatapnya. Sepertinya anak muda ini sudah tidak mampu menahan emosinya, dengan segera ia melesakkan batang penisnya. Kembali aku tersenyum, penis itu meleset dari sasarannya.
“Tenang…. perlahan …. jangan tergesa-gesa…..” kataku pada Harso.
“Iya…bu….”
kembali aku genggam kemaluan itu, aku arahkan ke dalam lubang vagina dan ku tuntunn memasukinya.
“OK… masukkan perlahan….” komandoku
Harsopun menuruti apa yang aku perintahkan, secara perlahan penisnya mulai masuk ke dalam vaginaku. Perlahan tapi pasti akhirnya masuklah semua hingga ke dasar lubang vagina. Akupun merasakan tubuhku bergetar jebat ketika penis itu masuk. Inilah penis kedua setelah penis suamiku yang telah menerobos lubang vaginaku.
Sepetinya hubungan sex adalah naluriahseorang manusia, kini tanpa dikomando lagi Harso mulai menarik separoh dari penisnya dan menghujamkan kembali ke lubang vagina. Terus… terus…. dan terus…..
Goyangan pinggulku mengimbangi gerakan naik turun pantat Harso. Irama yang ritmis ini membuat nafsuku semakin meningkat, gesekan penis pada dinding vagina serta rambut kemaluan Harso yang menyapu dan menggesek clitorisku membuat aku tidak dapat menahan lagi orgasme-ku.
“Hmmm… aayyoo….. Hhharr… lllebihh cceeppatt…lagii….. iibuuu ssuuddaah tidak… tttaaahaann…. aahhhhh”
Harso semakin mempercepat gerakkannya, goyangan pinggulku juga ku percepat.
“Aaahhhggg….. Oouugghhh……”
Orgasme datang dengan hebatnya, hingga tanpa ku sadari aku merapatkan kaki sehingga penis Harso terjepit olehnya. Aku mendekap erat tubuh anak pembantuku ketika orgasme itu datang.
Tetapi penis si Harso muda masih saja melakukan gerakan maju mundur menusuk lubang vaginaku yang sudah banjir, oh… ternyata ia belum mengalami ejakulasi… kuat juga anak ini .
“Ayyoo… teruss….. sshhhh” aku memberi semangat kepadanya disela-sela lemasnya tubuh setelah orgasme.
Mendengar itu Harso semakin tambah semangat dalam melakukan hubungan sex terlarang ini. Terbukti dengan semakin cepatnya dia menusukkan penisnya pada vaginaku. Akupun kembali mengimbanginya dengan menggoyangkan pantatku.
Tak terasa aku kembali mendapatkan rangsangan, semangat anak muda ini membuat gairahku terbakar.
Dengan sedikit kelelahan, gerakan Harso mulai melemah. Tetapi jangan salah, tusukan penisnya malah semakin keras dan sedikit kasar. Hal ini membuat aku semakin kelimpungan, tusukan yang keras itu membuat penis Harso masuk secara penuh ke dalam lubang vagina sehingga menyentuh dasarnya.
“Hhhggg…. hhhggghhh” hanya itu suara yang keluar dari mulutku ketika penis Harso menghujam keras
Tubuhku menegang ketika tusukkan itu mengenai dasar vagina, belum pernah aku mengalami peristiwa seperti ini. Tusukan yang keras membuat aku semakin dekat dengan orgasme demikian juga dengan Harso. Aku merasakan penisnya berdenyut semakin cepat dalam himpitan vagina.
Benar juga, tak berapa lama tubuhku menegang, aku kembali mengalami orgasme yang lebih hebat dari yang pertama dan kemudian Harso menyusulnya. Pancaran sprema terasa hangat dalam vaginaku. Tubuh Harso ambruk lemas dalam dekapanku, kami berdua sama-sama lemas, nafas kamipun ngos-ngosan seperti habis berlari jauh.
Aku ciumi kening anak muda ini sebagai ucapan terima kasih. Harsolah yang telah membuat aku mengalami multi orgasme, dialah yang pada hari ini telah memberiku pengalaman baru dalam berhubungan sex. Hari ini penuh kejutan…. itu intinya.
Setelah semuanya usai, dengan perlahan Harso mencabut penisnya, desiran halus ku rasakan ketika penis yang mulai lemas itu keluar dari lubang vagina.
Tampak cairan sprema membasahi penis Harso, dan dari dalam lubang kemaluan aku rasakan ada lelehan sperma yang keluar. Aku ambil celana dalamku yang tergeletak di atas dashboard, kuseka lubang kemaluanku hingga bersih dari sperma, setelah itu giliran penis Harso aku seka hingga bersih.
Kami keluar dari mobil, sekali lagi dengan senyuman manis aku mengucapkan terima kasih kepada anak muda yang telah membuat aku mengalami multi orgasme.
Bersama-sama kami masuk sambil membawa barang belanjaan dan tas kantor.
“Bu… boleh Harso menyimpan celana dalam ini” kata Harso sambil menunjukkan celana dalamku yang sudah basah oleh cairan vagina dan sperma. “Harso ingin ini menjadi kenangan…”
“Kenangan untuk apa….” jawabku penasaran
“Hari ini perjaka Harso telah Harso persembahkan untuk ibu….. Harso selalu membayangkan bersetubuh dengan ibu ketika onani…. dan hari ini semuanya telah menjadi kenyataan……”
“Oohhh….. ya sudah…. tapi simpan rapat-rapat rahasia ini … jangan sampai Mak-mu tahu…ya….” kataku sambil mengelus rambutnya dan kecupan lembut mendarat di keningnya.

Pengalaman pertama berhubungan sex dengan orang lain membuat aku jadi lebih berani untuk berpetualang. Sekarang secara rutin Harso melayaniku seminggu dua kali. Di luar itu masturbasi tetap saja aku lakukan ketika tiba-tiba nafsu membelenggu..

Belum ada review untuk BODY Yanti Sangwanita karir

Silahkan tulis review Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

12345

Produk Terkait BODY Yanti Sangwanita karir

Mungkin Anda tertarik dengan produk terbaru kami.

Sidebar Kiri
Kontak
Sidebar Kanan